JAKARTA, AFU.ID — Niat berhenti untuk melihat tawuran berakhir petaka bagi Daffa Al Bukhari (17), seorang pelajar SMA di Kota Medan. Daffa tewas setelah diduga terkena tembakan pada bagian mata kiri saat bentrokan antarkelompok remaja pecah di kawasan terowongan jalan tol dekat PT Agro Raya, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu sekitar pukul 02.00 WIB. Hingga hampir sepekan setelah kejadian, orang yang melepaskan tembakan belum berhasil ditangkap.
Berdasarkan keterangan yang diterima keluarga dari teman-teman korban, Daffa awalnya dibonceng menggunakan sepeda motor melintasi lokasi kejadian. Mereka kemudian berhenti setelah melihat keributan yang melibatkan sejumlah anak muda. Di tengah bentrokan tersebut, Daffa tiba-tiba terjatuh dengan darah mengucur dari mata kirinya. Remaja itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Delima, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Ibu korban, Ika Indah Sari (38), mengaku menerima kabar kematian Daffa ketika dirinya sedang tidur. Saat tiba di rumah sakit, perempuan yang bekerja sebagai guru itu mendapati anak sulungnya telah meninggal dunia. Ika kemudian mendatangi Polda Sumatera Utara bersama suami dan keluarganya untuk melaporkan dugaan pembunuhan terhadap Daffa. Laporan tersebut tercatat pada 22 Juli 2026. “Saya mau keadilan buat anak saya. Saya tidak mau anak saya mati sia-sia,” kata Ika, Rabu (22/07/26).
Sehari sebelum kejadian, Daffa sempat menyampaikan keinginan untuk merantau dan mencari penghasilan. Remaja tersebut juga berpesan agar ibunya tidak menangis ketika dirinya pergi. Setelah menyampaikan pesan itu, Daffa mencium sang ibu sebelum keduanya berpisah. Percakapan tersebut kini menjadi kenangan terakhir Ika bersama anak pertamanya.
Di tengah desakan keluarga agar pelaku segera ditemukan, polisi mengakui penyelidikan masih mengalami kendala. Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan Iptu Hamzar Nodi mengatakan belum ada satu pun pelaku penembakan yang berhasil ditangkap. Polisi juga belum mendapatkan keterangan lengkap mengenai identitas kelompok yang terlibat maupun orang yang melepaskan tembakan.
“Masih belum tertangkap para pelakunya,” ujar Hamzar.
Hamzar menyebut proses pengumpulan keterangan tidak berjalan optimal karena ibu korban memilih membuat laporan ke Polda Sumut dan tidak datang ke Polsek Medan Labuhan. Menurut dia, petugas telah mendatangi rumah keluarga untuk membantu pembuatan laporan, tetapi mendapat penolakan. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan karena keluarga korban pada dasarnya telah mengambil langkah hukum dengan mendatangi kepolisian tingkat daerah untuk meminta kasus tersebut diusut.
Selain keluarga, polisi juga menyoroti minimnya keterbukaan masyarakat di sekitar lokasi tawuran. Petugas menyebut para remaja yang diduga terlibat selalu membubarkan diri ketika polisi datang dan sebagian di antaranya diduga mendapat perlindungan dari lingkungan sekitar. Namun, polisi belum menjelaskan secara terperinci siapa warga yang disebut melindungi para pelaku maupun bukti yang telah ditemukan. “Itu kan anak-anak muda. Kita ke sana sudah bubar. Tidak bisa ditangkap, malah dilindungi lagi,” kata Hamzar.
Seorang warga berinisial JS yang berusaha membubarkan bentrokan turut mengalami luka ringan. Namun, saksi tersebut mengaku tidak mengetahui identitas maupun asal kelompok yang terlibat. Polisi masih perlu menelusuri saksi lain, rekaman kamera pengawas, jenis senjata yang digunakan, serta arah datangnya tembakan untuk menemukan pelaku utama.
Polisi turut meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama pada malam hari. Hamzar menyebut masih ada orang tua yang mengetahui anaknya membawa senjata tajam, tetapi tidak memberikan teguran. Menurut dia, penanganan tawuran tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan pemerintah setempat.
Namun, di tengah persoalan pencegahan tawuran dan minimnya keterangan saksi, keluarga masih menunggu jawaban paling mendasar: siapa yang melepaskan tembakan hingga menembus mata kiri Daffa. Selama pelaku belum tertangkap, kematian pelajar berusia 17 tahun itu masih menyisakan luka sekaligus tanda tanya mengenai keamanan remaja di tengah maraknya bentrokan jalanan di Medan. (RHU)