JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 25 provinsi mengikuti ‘Gerakan Tanam Serentak’ yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI).
Melansir website Kementan RI pada Minggu (24/5/2026), agenda tersebut dalam rangka mengantisipasi dampak perubahan iklim dan eskalasi konflik geopolitik.
Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa pihaknya harus melakukan percepatan usai mempertimbangkan dua faktor tersebut.
Yang mana, kementeriannya ingin menjaga produksi pangan nasional dan memperkuat target swasembada pangan berkelanjutan.
Secara nasional, ‘Gerakan Tanam Serentak’ berlangsung di 25 provinsi dengan target tanam sekitar 50 ribu hektare.
Kegiatan mencakup lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024 seluas 21.093 hektare, Oplah 2025 seluas 27.472 hektare, dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025 seluas 1.700 hektare.
Provinsi yang berpartisipasi adalah Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Papua, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan sejumlah wilayah lainnya.
“Gerakan ini menjadi langkah konkret Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif,” ungkap Mentan Amran.
“Sehingga, kita bisa memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung tercapainya swasembada padi secara berkelanjutan,” sambungnya.
Percepatan tanam juga menjadi strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk potensi El Nino, yang berisiko menurunkan produksi pangan akibat berkurangnya ketersediaan air dan mundurnya musim tanam.
Mentan Amran juga telah menerbitkan surat edaran kepada kepala daerah sebagai langkah mitigasi dan antisipasi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Dalam surat edaran tersebut, pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, pendataan potensi sumber air, serta optimalisasi indeks pertanaman di wilayah masing-masing.
Langkah mitigasi juga dilakukan melalui percepatan tanam, pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, dan penggunaan benih tahan kekeringan.
Termasuk pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, dan sumur bor guna menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Sebagai informasi, Gerakan Tanam Serentak berpusat di Desa Bojonglongok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, pada Jumat (22/5/2026) lalu. (ADR)