JAKARTA, AFU.ID — Konservasi penyu di pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini mengandalkan pesawat nirawak.
Penggunaan teknologi tersebut merupakan salah satu upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), melalui Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak.
Yang mana, turut melibatkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim, serta kelompok masyarakat pegiat lingkungan.
Kolaborasi taktis yang memanfaatkan teknologi pesawat nirawak tersebut hadir untuk menghasilkan pemantauan populasi yang lebih sahih dan transparan.
Penggunaan instrumen udara berfokus pada Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS).
Melalui survei tersebut, tim peneliti memetakan habitat fauna secara visual di perairan dangkal, ekosistem padang lamun, hingga area terumbu karang yang tersebar di 12 lokasi strategis.
“Pemanfaatan teknologi pesawat nirawak membantu menghasilkan data yang lebih akurat dan efisien untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi,” ungkap Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak-KKP, Syarif Iwan Taruna Alkadrie dikutip AFU.ID dari ANTARA, Minggu (31/5/2026).
Pencitraan dari udara menghasilkan tingkat ketelitian spasial tinggi berkisar antara 1,5 hingga 5 sentimeter.
Resolusi super tajam pun mempermudah para peneliti membedakan objek penyu secara akurat dari material laut lainnya, bahkan di wilayah sebaran yang sulit terjangkau oleh kapal patroli konvensional.
Data konkret tersebut berfungsi sebagai landasan ilmiah krusial bagi otoritas terkait dalam merumuskan kebijakan perlindungan kawasan secara berkala.
“Dalam survei udara, tim berhasil mengidentifikasi hingga 913 individu penyu di perairan pesisir wilayah KKP3K KDPS," tutur Syarif Iwan Taruna.
Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto menyatakan, integrasi antara adopsi teknologi mutakhir dan partisipasi aktif komunitas pesisir memegang kunci keberhasilan penyelamatan ekosistem.
Hal tersebut karena masyarakat hidup berdampingan langsung dengan satwa liar, kesadaran lokal menjadi benteng pertahanan utama.
“Temuan 913 individu penyu di KKP3K KDPS memperlihatkan bahwa wilayah ini merupakan habitat penting yang perlu terus dijaga bersama,” ujar Yusuf Fajariyanto. (ADR)