Pemerintah Indonesia berencana memperluas jaringan rel kereta api nasional dari 7.000 kilometer menjadi 14.000 kilometer melalui pembangunan jalur baru dan reaktivasi rel yang sudah tidak aktif. Meskipun rencana ini sedang disusun dalam peta jalan pengembangan perkeretaapian, rincian mengenai panjang jalur yang akan diaktifkan dan anggaran belum diungkapkan, dengan target penyelesaian ditetapkan dalam "sekian puluh tahun ke depan." Pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan mobilitas penumpang dan distribusi logistik, dengan mengacu pada model pengembangan jaringan rel di Jepang, namun disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.
Ilustrasi - Kereta api sedang melintas di lintasan antara Stasiun Medan menuju Stasiun Bandar Khalifah ANTARA/Juraidi
JAKARTA, AFU.ID – Pemerintah berencana memperluas jaringan rel kereta api nasional dari sekitar 7.000 kilometer menjadi 14.000 kilometer melalui pembangunan jalur baru dan reaktivasi rel mati. Namun, panjang jalur terbengkalai yang akan diaktifkan, lokasi prioritas, kebutuhan anggaran, serta target penyelesaiannya belum diperinci.
Rencana tersebut masih berada dalam penyusunan peta jalan pengembangan perkeretaapian nasional. Selain mengaktifkan kembali jalur lama, pemerintah menyiapkan jaringan Trans Sumatera, Trans Kalimantan, dan Trans Sulawesi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pengembangan jaringan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kita harus membangun dan atau melakukan reaktivasi terhadap rel-rel kereta yang sudah ada, tetapi pasif selama ini, hingga 14.000 kilometer dalam sekian puluh tahun ke depan,” kata AHY di Jakarta, dikutip Sabtu (25/7/2026). Angka 14.000 kilometer merupakan target keseluruhan jaringan rel, bukan panjang jalur mati yang akan diaktifkan. Pemerintah akan mengejarnya dengan menggabungkan reaktivasi dan pembangunan lintasan baru.
Indonesia memiliki sejumlah jalur kereta yang tidak lagi beroperasi setelah ditutup selama puluhan tahun. Sebagian dibangun sejak era kolonial Belanda, tetapi kemudian terbengkalai akibat perubahan pola transportasi, kerusakan infrastruktur, serta berhentinya pelayanan kereta. Pengaktifan kembali jalur tersebut tidak hanya membutuhkan perbaikan rel. Pemerintah juga perlu menangani stasiun, jembatan, persinyalan, perlintasan, serta lahan yang telah beralih fungsi atau ditempati masyarakat.
Jaringan rel aktif di Indonesia saat ini mencapai sekitar 7.000 kilometer dan sebagian besar berada di Pulau Jawa. Target 14.000 kilometer berarti pemerintah harus menambah jaringan hingga dua kali lipat dari kondisi sekarang. “Hari ini kita punya kurang lebih 7.000 kilometer rel kereta dan itu didominasi Jawa,” ujar AHY. Pemerintah belum menetapkan tenggat tahun penyelesaian. AHY baru menyebut pengembangan dan reaktivasi tersebut akan berlangsung dalam “sekian puluh tahun ke depan”.
Peta jalan yang sedang disusun akan memasukkan pengembangan jaringan kereta di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun, urutan pembangunan, panjang lintasan, serta tahapan pengerjaan di masing-masing pulau belum diumumkan. “Ke depan kami sedang menyusun sebuah master plan untuk pengembangan Trans Sumatera, Trans Kalimantan, dan juga Trans Sulawesi railway system,” kata AHY.
Pemerintah menjadikan Jepang sebagai salah satu rujukan karena dinilai memiliki karakter geografis yang serupa dengan Indonesia sebagai negara kepulauan. Namun, penerapan model tersebut akan disesuaikan dengan kondisi wilayah dan kebutuhan konektivitas nasional. Rencana perluasan jaringan rel diarahkan untuk mendukung mobilitas penumpang dan distribusi logistik. (FAD)