JAKARTA, AFU.ID - Pemerintah meniadakan pesta kembang api dari rangkaian Malam Merdeka HUT ke-81 Republik Indonesia di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk empati terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Simalungun, Sumatera Utara. Padahal, pesta kembang api sebelumnya telah masuk dalam agenda Pesta Rakyat HUT ke-81 RI yang disiapkan pemerintah sejak akhir Juli.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pemerintah harus menyesuaikan kemeriahan perayaan kemerdekaan dengan suasana duka akibat bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Meski persiapan telah berlangsung sebelumnya, pertunjukan kembang api dinilai kurang tepat untuk tetap dilaksanakan dalam kondisi tersebut. “Ada satu lah agenda yang kita tunda dulu, kembang api. Karena itu kan terlalu ‘bagaimana’ begitu ya,” kata Riefky, Senin (17/8/2026).
Peniadaan kembang api tidak berarti seluruh rangkaian hiburan malam di Monas dibatalkan. Pemerintah tetap melanjutkan pertunjukan drone show dan video mapping, tetapi visual yang ditampilkan akan disisipi pesan solidaritas untuk masyarakat terdampak bencana. Salah satu pesan yang disiapkan dalam pertunjukan tersebut adalah “Pray for NTT”.
“Di video mapping di Monas maupun drone juga ada apa namanya tampilan ‘Pray for NTT’, semacam itu,” ujar Riefky. Menurutnya, penyisipan pesan tersebut menjadi cara pemerintah menyampaikan suasana batin bangsa di tengah perayaan kemerdekaan. Format itu membuat Malam Merdeka tetap berlangsung, tetapi dengan mengurangi unsur perayaan yang dianggap terlalu berlebihan.
Perubahan tersebut berbeda dengan rencana awal Pesta Rakyat yang diumumkan pemerintah pada 31 Juli 2026. Saat itu, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menyebut masyarakat akan disuguhi sejumlah hiburan di Monas, mulai dari perlombaan, panggung hiburan, drone show, video mapping, hingga pesta kembang api. Pesta Rakyat juga disiapkan berlangsung sejak pagi hingga malam dan terbuka bagi masyarakat.
Deputi Bidang Strategi dan Komunikasi Badan Komunikasi Pemerintah RI Fahd Pahdepie mengatakan pemerintah tetap ingin memberi ruang bagi masyarakat untuk merayakan dan mensyukuri kemerdekaan. Namun, ekspresi kegembiraan tersebut diminta dilakukan secara terukur dengan tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat yang sedang tertimpa bencana. Pemerintah juga mendorong perayaan HUT RI menjadi momentum memperkuat solidaritas nasional.
“Pemerintah menghimbau agar perayaan atau ekspresi rasa syukur di malam kesenian bersama itu bisa dilakukan juga dengan penuh empati, terukur, bertenggang rasa kepada teman-teman atau saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” ujar Fahd. Ia juga meminta masyarakat tidak merayakan kemerdekaan secara berlebihan hingga melupakan warga yang tengah menghadapi musibah. Perhatian terutama diarahkan kepada korban gempa di NTT yang masih menjalani penanganan darurat.
Gempa M7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026) pagi dengan pusat gempa berada di laut dan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, serta sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah. Berdasarkan data BNPB hingga Minggu (16/8/2026) sore yang dikutip dalam laporan sebelumnya, jumlah korban meninggal tercatat sebanyak 53 orang.
Dengan perubahan agenda tersebut, perayaan Malam Merdeka di Monas tetap berlangsung tetapi tanpa pesta kembang api yang sebelumnya direncanakan menjadi salah satu puncak pertunjukan. Drone show dan video mapping kini sekaligus digunakan untuk membawa pesan solidaritas bagi masyarakat terdampak gempa. Pemerintah berharap perayaan HUT ke-81 RI tetap menjadi ruang kegembiraan dan rasa syukur tanpa menghilangkan empati terhadap daerah yang sedang berduka. (RHU)