JAKARTA, AFU.ID - Percakapan di kanal Akbar Faizal Uncensored mengalir tenang, tapi isinya padat dan menohok. Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda membuka satu gagasan yang terasa relevan di tengah riuh geopolitik hari ini: Indonesia boleh ke mana saja, tapi tidak boleh kehilangan arah.
Menjawab pertanyaan Akbar Faizal soal intensitas komunikasi Presiden Prabowo Subianto dengan berbagai negara, termasuk di luar blok BRICS, Hasan menegaskan satu hal: tidak ada yang perlu tersinggung. Dunia sudah tahu Indonesia punya tradisi panjang menjalin hubungan dengan semua pihak.
Ia mengingatkan, bahkan sejak era Soekarno, Indonesia sudah memainkan peran itu—dekat dengan Amerika Serikat, tapi juga menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet. Politik luar negeri bebas aktif bukan konsep baru, melainkan warisan yang terus hidup.
Namun konteks dunia telah berubah. Dari bipolar ke multipolar. Dari dua kekuatan besar menjadi banyak pusat pengaruh. Dalam situasi seperti ini, menurut Hasan, konflik justru lebih mudah muncul. Karena itu, pendekatan yang tepat bukan lagi sekadar nonblok, tetapi “multi-alignment”—berhubungan baik dengan semua pihak tanpa terjebak pada satu poros.
Indonesia, katanya, bisa dekat dengan China, Amerika, Rusia, bahkan Eropa, tanpa harus memilih satu. Bahkan, ada harapan dari pihak luar agar Indonesia memainkan peran sebagai jembatan—menghubungkan kekuatan besar melalui ASEAN.
Di sinilah titik penting itu muncul: jangkar.
Hasan menegaskan, seluas apa pun Indonesia membuka hubungan global, harus ada pijakan yang jelas. Dan jangkar itu adalah ASEAN. Kawasan yang bukan hanya rumah geografis, tapi juga ruang strategis yang membutuhkan kepemimpinan Indonesia—terutama di tengah krisis seperti Myanmar dan dinamika regional lainnya.
Ia juga menyinggung pentingnya memperkuat arsitektur kawasan, termasuk forum seperti East Asia Summit dan gagasan komunitas Asia Timur. Dalam pandangannya, pusat gravitasi dunia kini bergeser ke Indo-Pasifik. Asia Timur bukan lagi pinggiran, tapi pusat.
Data ekonomi memperkuat itu. Dari enam kekuatan ekonomi terbesar dunia berbasis daya beli, empat berada di kawasan ini: China, Amerika, India, dan ASEAN. Bahkan perdagangan ASEAN dengan China telah menembus US$1 triliun—melampaui hubungan China dengan Uni Eropa.
Namun Hasan juga memberi catatan kritis. Ia melihat pendekatan luar negeri pemerintahan saat ini aktif, tapi belum sepenuhnya solid. Kunjungan ke banyak negara dinilai belum diiringi dengan koherensi kebijakan yang kuat. Jangkar ASEAN, menurutnya, perlu diperkuat kembali.
Masalah lain yang disorot adalah kelemahan pada tim dan mekanisme diplomasi. Ia menyinggung pentingnya kehadiran figur-figur senior dalam struktur penasihat, seperti yang pernah ada di masa lalu. Tanpa itu, ada risiko kebijakan berjalan tanpa arah yang cukup tajam.
Soal penunjukan duta besar, Hasan juga bicara lugas. Ia tidak mempermasalahkan apakah berasal dari karier atau nonkarier. Yang penting adalah kualifikasi dan kesesuaian dengan misi negara. Tanpa itu, diplomasi bisa kehilangan efektivitas—bahkan berisiko merusak hubungan strategis.
Di ujung percakapan, satu pesan mengendap: Indonesia punya posisi penting di dunia yang sedang berubah. Tapi posisi itu tidak otomatis kuat. Ia harus dijaga, diarahkan, dan diperkuat dengan strategi yang jelas.
Karena dalam dunia yang makin terbuka, berhubungan ke mana-mana itu mudah. Yang sulit adalah memastikan: kita benar-benar berdiri di mana. (*)