JAKARTA, AFU.ID - Setiap tanggal 10 Agustus, Republik Indonesia mengheningkan cipta dalam rangka memperingati Hari Veteran Nasional. Momen ini merujuk pada peristiwa bersejarah gencatan senjata di Surakarta pada 10 Agustus 1949, ketika para pejuang berhasil mempertahankan kedaulatan dari agresi militer Belanda. Namun, peringatan ini tidak sekadar mengenang sejarah di atas kertas, melainkan tentang menghormati raga dan jiwa para pejuang yang sebagian masih bernapas hingga hari ini, membawa luka serta kisah heroik dari medan pertempuran.
Di tengah gegap gempita peringatan tahun ini, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) kembali mengutarakan komitmennya untuk membenahi dan meningkatkan kesejahteraan para veteran perang. Kepala Badan Cadangan Nasional Kemenhan, Letnan Jenderal TNI Gabriel Lema, menekankan komitmen pemerintah usai memimpin Ziarah Nasional Veteran di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
"Kami berupaya dari Kementerian Pertahanan, oleh Bapak Menhan dan semua, tahun demi tahun akan selalu kami laksanakan peningkatan," ujar Gabriel, Senin (10/8/2029).
Kemenhan berkoordinasi dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) untuk menyusun program pendukung yang tepat sasaran, mulai dari layanan kesehatan hingga peningkatan tunjangan secara bertahap. Komitmen tersebut disambut baik oleh Ketua Umum DPP LVRI, Letnan Jenderal (Purn) Herman Bernhard Leopold Mantiri. "Ini sudah cukup buat kami, karena ini yang kami harapkan juga. Tahun demi tahun akan selalu meningkat. Jadi itu buat kami sangat berarti," ungkap Mantiri.
Komitmen pemerintah untuk menjamin masa tua veteran menjadi sangat krusial ketika melihat kenyataan bahwa jumlah saksi mata penegakan kedaulatan makin menyusut. Di Jawa Timur, Amad (104 tahun) tercatat sebagai satu-satunya veteran perang 1945 yang masih hidup. Lahir pada tahun 1922, Amad merupakan saksi hidup sekaligus pelaku sejarah perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya.
Kala gerakan arek-arek Suroboyo memuncak, Amad muda diberi tugas krusial untuk menyediakan sarana fisik pendorong aksi. "Dengan tangga itu, arek-arek Suroboyo bisa naik ke puncak hotel Yamato dan merobek bendera Merah-Putih-Biru milik Belanda menjadi sang saka Merah Putih," kisahnya.
Selain berjuang bersama pasukan Bung Tomo, Amad yang merupakan mantan anggota Heiho pernah memimpin pengambilalihan senjata peninggalan Jepang di Sekolah Don Bosco, Jalan Tidar, Surabaya. Keberaniannya dibayar mahal dengan sebuah peluru yang hingga kini masih mengendap di dalam tubuhnya.
"Masih ada pelurunya sampai sekarang, kata dokter kalau pelurunya diambil nyawa saya bisa terancam atau kalau saya masih hidup bisa cacat tidak bisa jalan lagi," tutur Amad.
Kisah pengorbanan jiwa dan raga juga datang dari Jakub H.S. (86 tahun), mantan prajurit Korps Komando (KKO) Marinir. Mantan anak petani dan guru sekolah di bawah pohon beringin ini dikirim dalam Operasi Trikora pada 1962 menggunakan KRI Tolando di bawah komando Mayor KKO Abdul Muiz Janggut. Jakub mengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati saat berada di atas kapal pendarat.
"Saat itu semua diberi kalung dan gelang identitas. Dulu diperkirakan separuh pasukan akan gugur," ujar Jakub.
Setiap prajurit dibekali penanda identitas agar jasad mereka dapat dikenali jika tewas dalam pendaratan. Setahun kemudian, Jakub dikirim ke Pulau Sebatik dalam Operasi Dwikora (Konfrontasi Indonesia-Malaysia) dan kehilangan rekan seangkatannya, Janatin alias Usman, yang kemudian gugur dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Sementara itu, Veteran Pembela Dwikora lainnya, Lamidi, menegaskan pentingnya mewariskan nilai-nilai patriotisme ini kepada generasi muda agar perjuangan tidak terhenti sebagai arsip. "Teruskan perjuangan para pendahulu. Continue the struggle of our predecessors," pesan Lamidi.
Ia menambahkan semboyan keteguhan dalam menghadapi rintangan zaman. "Tembus terus halang lintang, capai pantai seberang. Onward, no retreat (maju terus jangan mundur)," tegasnya.
Peringatan Hari Veteran Nasional 2026—yang puncaknya dihadiri Menteri Pertahanan di Balai Sudirman pada Rabu, 12 Agustus 2026—menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan darah, peluru yang tersisa di dalam raga, dan taruhan nyawa di garis depan pertempuran. Janji peningkatan kesejahteraan dari Kemenhan diharapkan bukan sekadar rutinitas seremoni tahunan, melainkan wujud nyata penghormatan negara kepada para pengawal kedaulatan di sisa akhir hayat mereka.
Di berbagai penjuru daerah, seruan janji manis kesejahteraan belum sepenuhnya meresap ke bilik-bilik rumah tua para pejuang gawat darurat. Berdasarkan catatan dan estimasi pendataan veteran di Indonesia, dari puluhan ribu purnawirawan yang terdaftar dalam keanggotaan LVRI, masih ada ribuan veteran—terutama veteran pembela Trikora, Dwikora, hingga Seroja—yang hidup di bawah garis kemakmuran.
Masalah klasik seperti pencairan dana kehormatan (DVK) dan tunjangan veteran yang minim, persoalan administrasi pendaftaran, hingga ketiadaan tempat tinggal layak masih menjadi tembok tebal yang menghimpit hari tua mereka. Kisah-kisah pilu tak jarang menyeruak di tengah tumpukan piagam penghargaan yang mulai berdebu.
Di pelosok-pelosok desa, tidak sedikit veteran tua yang harus menghabiskan sisa hidupnya di gubuk reot beratap tiris, bergantung pada belas kasihan tetangga, atau bahkan terpaksa terus bekerja fisik di usia senja demi sekadar menyambung hidup. Salah satu kisah yang mencuat adalah nasib Mbah Sarno (84 tahun) adalah seorang pejuang asal Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIY, yang memiliki rekam jejak pengabdian panjang bagi militer dan pertahanan Indonesia.
Mbah Sarno yang pernah tergabung dalam Batalyon Infanteri (Yonif) 409, semasa aktifnya mengikuti berbagai palagan pertemputan seperti penumpasan DI/TII di Jawa Barat, PRRI di Sumatra, operasi penumpasan Kahar Muzakkar di Sulawesi, dan operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk pembebasan Irian Barat.
Namun, setelah purnatugas pada 1969, ia bekerja sebagai keamanan pasar di Bandung sebelum kembali ke Gunungkidul untuk bertani. Selama 20 tahun, Mbah Sarno tinggal di bangunan gubuk 8x6 meter bekas kandang ayam di tanah keponakannya dan mengandalkan bantuan makanan dari tetangga.
Mbah Sarno sempat dua kali mengajukan hak status veteran dan pensiunan sejak 2014, namun proses administrasinya tertahan dan tidak kunjung lolos karena kendala birokrasi, sehingga ia tidak menerima tunjangan veteran (tuvet). Setelah kisahnya viral pada pertengahan 2024, Kodam IV/Diponegoro bersama instansi terkait turun tangan membangunkan rumah layak huni berkonstruksi tahan gempa untuk Mbah Sarno.
Hak pensiun dan status veteran Mbah Sarno secara resmi diproses dan diserahkan kembali pada akhir 2024 hingga akhir 2025 sebagai wujud apresiasi atas pengabdiannya kepada NKRI. Masih banyak veteran bernasib seperti Mbah Sarno.
Beberapa di antaranya bahkan berjuang bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan pengakuan administratif sebagai veteran resmi agar berhak atas tunjangan negara yang tidak seberapa. Bagi mereka, gelar pahlawan kerap terasa ironis ketika kebutuhan paling mendasar seperti obat-obatan dan hunian layak justru sulit terjangkau. (MAR)