JAKARTA, AFU.ID — Nama Joko Purnomo menjadi perhatian setelah disebut dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI 2026. Di balik namanya yang muncul dalam agenda kenegaraan tersebut, Joko merupakan petani sekaligus penggerak kelompok tani dari Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Ia dikenal aktif mendorong modernisasi pertanian, pembenahan distribusi pupuk hingga pengelolaan usaha kelompok tani.
Sidang Tahunan MPR RI 2026 digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), dengan Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan. Pemerintah sebelumnya juga mengundang sejumlah penerima manfaat program pemerintah sebagai tamu khusus dalam agenda tersebut.
Joko merupakan Ketua Kelompok Tani Sri Makmur di Desa Purwosari. Dalam keterangannya mengenai perubahan sektor pertanian, ia mengaku tumbuh sebagai anak petani dan mengalami langsung persoalan yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat tani, salah satunya distribusi pupuk bersubsidi.
“Dulu data pupuk juga amburadul. Orang beli pupuk semaunya. Mereka yang nggak punya duit juga akan kesulitan pupuk,” kata Joko. Pernyataan itu menggambarkan persoalan distribusi pupuk yang menurutnya pernah tidak tertata dan merugikan petani dengan modal terbatas.
Dalam perkembangannya, Joko ikut mendorong pembenahan tata kelola kelompok tani dan pemanfaatan teknologi pertanian. Pengolahan hingga panen yang sebelumnya banyak bergantung pada tenaga manusia atau metode tradisional mulai diarahkan menggunakan alat dan mesin pertanian untuk mempercepat pekerjaan di sawah.
Jejak Joko dalam bidang pertanian juga tercatat dalam dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Ngawi. Melalui Keputusan Bupati Ngawi Nomor 100.3.3.2/437/404.101.2/B/2025, Joko Purnomo dari Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan, ditetapkan sebagai Juara 1 Lomba Kreativitas Penyuluh Pertanian Swadaya tahun 2025. Ia memperoleh uang pembinaan Rp3 juta dalam penghargaan tersebut.
Aktivitas Joko bersama Poktan Sri Makmur masih berlangsung hingga kini. Pada 11 Agustus lalu, kelompok tani yang dipimpinnya menjadi salah satu dari tiga kelompok tani di Ngawi yang menerima mesin pemanen padi combine harvester. Joko mengatakan bantuan tersebut merupakan alsintan pertama yang diterima kelompoknya dan akan dikelola bersama oleh anggota.
“Semoga dengan bantuan ini dapat membantu kami dalam proses panen dan memberikan nilai tambah bagi anggota kami,” ujarnya. Mesin tersebut diharapkan mempercepat panen ketika tenaga kerja pertanian semakin terbatas, terutama saat sejumlah wilayah memasuki panen dalam waktu bersamaan.
Kebutuhan mekanisasi menjadi persoalan nyata bagi petani di Ngawi. Keterlambatan proses panen dapat meningkatkan risiko gabah rontok maupun penyusutan hasil ketika tenaga pemanen tidak tersedia dalam jumlah cukup. Karena itu, penggunaan mesin tidak hanya berkaitan dengan modernisasi, tetapi juga berpengaruh terhadap hasil yang diterima petani.
Ngawi sendiri menjadi salah satu daerah penting dalam produksi padi Jawa Timur. Pemerintah pusat beberapa kali menjadikan daerah tersebut lokasi kegiatan pertanian, termasuk ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melakukan penanaman padi menggunakan rice transplanter dan menyerahkan bantuan alsintan kepada petani pada 2025.
Bagi Joko, perubahan pertanian tidak berhenti pada hadirnya mesin di sawah. Perbaikan pendataan pupuk, pengelolaan kelompok secara bersama, hingga kemampuan petani membangun usaha menjadi bagian dari upaya membuat pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan yang tertinggal.
Kemunculan namanya dalam momentum Sidang Tahunan MPR akhirnya membawa sosok petani dari Purwosari itu ke perhatian yang lebih luas. Di tingkat desa, jejaknya bukan hanya terlihat dari pengelolaan Poktan Sri Makmur, tetapi juga dari penghargaan sebagai penyuluh pertanian swadaya serta upayanya membawa penggunaan alat pertanian modern kepada kelompok yang dipimpinnya. (RHU)