Dari pelacakannya, ada satu penulis yang namanya berulang-ulang muncul di hampir semua paper ini yaitu Prof. Dr. Dian Damayanti. Akun @uniq_le juga mengungkapkan, yang menarik ada 1 paper dari beliau, judulnya "When Nobel is Nominated but ASN is Denied". Isinya curhat soal dirinya gagal jadi ASN meski katanya sudah berkali-kali "dinominasikan Nobel".
Soal siapa Prof. Dr. Dian Damayanti ini juga dikuliti akun @ikhwanuddin. "Hasil penelusuran netizen budiman: Oktober 2023 mengawali studi doktor di Universitas Borobudur (Ilmu Ekonomi) tapi tidak selesai, status terakhir Non-Aktif 2025/2026 Genap. Dosen tidak tetap, tidak punya jabatan fungsional, tapi mengaku bergelar Profesor Doktor," demikian ujar akun tersebut
Dia juga mengungkapkan dari hasil penelusuran diketahui, sejak Januari 2026 banyak mengunggah paper di SSRN dengan mencantumkan nama Presiden Prabowo (dan di beberapa paper juga nama Presiden Prancis Macron), membuat HAKI (salah satunya buku bertema Nobel), serta mengklaim sebagai nominasi Nobel Peace Prize 2026 melalui judul paper. "Tercatat juga menyematkan sendiri gelar Prof. Dr. di berbagai publikasi," ungkapnya.
Akun @ikhwanuddin juga mengungkapkan orang bersangkutan sering mencatut nama afiliasi lain dalam paper-papernya seperti European Alliance for Innovation (EAI), Universitas Pertahanan Indonesia, banyak dicantumkan di paper-paper SSRN bersama nama Prabowo, Universitas Borobudur Jakarta (yang paling sering dikaitkan sebagai mahasiswa S3 + dosen tidak tetap), Universitas Terbuka (muncul di beberapa bio/klaim dirinya), dan IGI Global, IEEE (sebagai reviewer/editor), dan kadang disebut bersama co-author dari Universitas Negeri Jakarta.
Kemudian akun @Txtdariiugm, sebagai akun yang pertama mengunggah isu ini juga menegaskan, paper tersebut ternyata dilampiri berkas pendukung pengajuan nobel. "Bahkan ada foto paketnya yg akan dikirimkan ke Oslo. saya cek resi Pos Indonesianya dan VALID emang paket itu dikirimkan ke Norway (sok atuh cek sendiri)," ujarnya.
"Bahkan ada lampiran surat dari kemendagri juga dan juga ada bukti submit nobel prize. yaudah gitu aja sih. emang ane nemu dari open source. kecuali kalo ngehack oke lah ane bisa dituntut," tambahnya.
Untuk mengusut tuntas kasus ini, tampaknya Bakom dan Kemendagri juga harus mengungkap misteri nama Prof. Dr. Dian Damayanti. Pasalnya, dari puluhan "paper" yang dia unggah di SSRN yang mencantumkan nama Prabowo dan juga Macron, nama Prof. Dr. Dian Damayanti selalu ada. Patut diduga, nama tersebutlah yang melakukan pencatutan nama Prabowo. (MAR)






























