JAKARTA, AFU.ID — Langit Jakarta menjadi panggung aksi spektakuler prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026). Sebanyak 17 penerjun melakukan freefall dari ketinggian 10.000 kaki dalam aksi “Victory Jump” sebelum mendarat di kawasan Silang Monas.
Atraksi diawali perintah Komandan Sat-81 Gultor Kopassus Kolonel Inf. Subandi. Empat penerjun pertama membentangkan bendera bertema HUT ke-81 RI, disusul bendera berukuran besar bergambar Presiden Prabowo Subianto. Puncaknya, Merah Putih raksasa dikibarkan di langit Jakarta sebelum seluruh penerjun melakukan happy landing dan memberi hormat ke arah podium utama.
Tak banyak yang tahu, siapa sebetulnya Sat-81 Gultor, pasukan paling elit yang dimiliki Kopassus ini. Di balik sisi misterius pasukan ini, ada nama Presiden Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Pandjaitan. Cikal bakal pasukan ini berawal dari pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada 1981. Saat itu, Kopassandha, nama Kopassus ketika itu, diturunkan untuk membebaskan para sandera. Operasi yang dipimpin Letkol Inf. Sintong Panjaitan berhasil melumpuhkan pembajak dan menyelamatkan para sandera dalam waktu singkat.
Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan kebutuhan Indonesia memiliki satuan khusus yang secara permanen dipersiapkan menghadapi aksi teror dan pembajakan. Pada 30 Juni 1982, dibentuk Detasemen 81 Antiteror (Den-81) di lingkungan Kopassandha. Mayor Inf. Luhut Binsar Pandjaitan dipercaya sebagai komandan pertama, sementara Kapten Inf. Prabowo Subianto menjadi wakilnya.
Sebelum membentuk satuan tersebut, Luhut dan Prabowo dikirim mengikuti pendidikan antiteror di GSG-9 Jerman. Setelah kembali ke Indonesia, keduanya dipercaya menyeleksi sekaligus melatih personel yang akan menjadi bagian dari Den-81 Dalam sejumlah kesempatan, Prabowo sendiri pernah menyebut bahwa dirinya bersama Luhut membentuk salah satu satuan antiteror pertama Indonesia. Luhut juga pernah menceritakan bagaimana mereka mendapat tugas membangun satuan tersebut dengan mengadopsi pengalaman dan spesialisasi yang dipelajari di luar negeri.
Nama “81” dikaitkan dengan momentum operasi pembebasan Woyla pada 1981. Luhut pernah menceritakan bahwa nama tersebut kemudian diajukan kepada Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf dan mendapat persetujuan. Den-81 mengalami perubahan organisasi. Pada 1996 satuan tersebut berubah menjadi Grup 5 Antiteror, sebelum pada 2002 kembali berubah menjadi Satuan 81 Kopassus yang dikenal sebagai Sat-81 Gultor.
Satuan ini memiliki karakter berbeda karena personelnya disiapkan untuk menjalankan operasi khusus dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Seleksi dan kemampuan operasionalnya juga tidak seluruhnya dipublikasikan kepada masyarakat. Lebih dari empat dekade setelah kelahirannya, para prajurit Sat-81 kini tampil di hadapan publik dalam suasana yang jauh berbeda dari tugas mereka sehari-hari. Pada HUT ke-81 RI, mereka menerjunkan 17 personel dari pesawat CN-295, membentuk formasi di udara, membawa simbol-simbol kemerdekaan, dan membentangkan Merah Putih raksasa di atas Jakarta. (EER)