JAKARTA, AFU.ID - Diskusi panas di kanal Akbar Faizal Uncensored kembali mengguncang ruang publik. Kali ini, Thomas Lembong atau Tom Lembong berbicara blak-blakan: problem ekonomi hari ini bukan sekadar tekanan global, melainkan akumulasi kesalahan kebijakan masa lalu yang kini menjadi beban nyata bagi pemerintahan Prabowo Subianto.
Tom menilai, arah kebijakan ekonomi sebelumnya terlalu bertumpu pada sektor sumber daya alam—mineral dan komoditas—yang justru menciptakan ketimpangan. “Kita menghasilkan orang kaya baru, tapi negara tidak jelas posisinya,” tegasnya. Ia menyebut orientasi tersebut bukan hanya gagal mendongkrak penerimaan negara, tetapi juga meninggalkan kerusakan lingkungan dan masalah sosial.
Di saat bersamaan, Indonesia disebut “ketinggalan kereta” dalam sektor masa depan seperti pusat data dan kecerdasan mesin. Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, hingga Thailand telah lebih dulu menggarap sektor ini secara serius.
Namun kritik Tom tak berhenti pada masa lalu. Ia juga menyoroti respons pemerintah saat ini yang dinilai belum cukup tegas. Pemangkasan program populis memang mulai dilakukan, tetapi disebut “terlambat dan terlalu kecil” dibanding skala masalah.
Kunci utama yang ditekankan Tom adalah kepercayaan. Menurutnya, investor membaca inkonsistensi antara pernyataan pejabat dan realitas ekonomi sebagai bentuk ketidakjujuran. “Kepercayaan datang dari kejujuran. Kalau data dan pernyataan tidak sinkron, investor akan mundur,” ujarnya.
Indikatornya terlihat jelas: nilai tukar rupiah melemah tajam, kinerja indeks saham terpuruk, dan Indonesia masuk jajaran negara dengan performa mata uang terburuk. Ini, kata Tom, bukan sekadar fluktuasi pasar—melainkan sinyal bahwa investor, termasuk domestik, mulai menarik dana dan memindahkannya ke aset yang lebih aman seperti dolar AS, euro, atau bahkan dolar Singapura.
Situasi ini diperparah oleh krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital sekitar 20% energi dunia. Tom mengingatkan, gangguan distribusi energi bisa berdampak langsung ke Indonesia, mulai dari lonjakan harga BBM hingga potensi kelangkaan LPG di berbagai daerah.
Ia bahkan mengklaim telah memperingatkan sejak awal bahwa risiko krisis energi domestik bisa terjadi dalam hitungan minggu. Kini, menurutnya, tanda-tanda itu mulai terlihat: harga energi melonjak, pasokan terganggu, dan keluhan masyarakat meningkat.
Di ujung diskusi, Tom menyampaikan pesan keras: waktu untuk berbenah semakin sempit. Tanpa keberanian mengambil keputusan besar dan realistis, Indonesia berisiko semakin tertinggal dalam kompetisi global.
“Ini bukan soal pesimis atau optimis. Ini soal membaca realitas dan bertindak cepat,” pungkasnya. (*)