JAKARTA, AFU.ID – Gempa kembar mengguncang Venezuela dan menimbulkan kerusakan luas di sejumlah wilayah. Bencana ini terjadi ketika Caracas masih berada dalam situasi politik baru setelah Nicolas Maduro ditangkap Amerika Serikat pada awal Januari 2026. Di tengah penanganan darurat, Amerika Serikat mengumumkan bantuan untuk Venezuela. Washington menyiapkan kapal perang, pesawat angkut, helikopter, tim penyelamat, serta bantuan senilai 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,6 triliun.
Dikutip dari Reuters, dua gempa kuat mengguncang wilayah sekitar Caracas pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 terjadi sekitar 160 kilometer sebelah barat Caracas. Kurang dari satu menit kemudian, gempa kedua berkekuatan magnitudo 7,5 kembali mengguncang. Reuters melaporkan gempa kedua itu menjadi gempa terkuat yang mengguncang Venezuela sejak 1900.
Guncangan tersebut merusak bangunan, membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal, dan menyebabkan operasi pencarian korban terus berlangsung di sejumlah titik. Menteri Kesehatan Venezuela Carlos Alvarado menyebut sedikitnya 235 korban meninggal telah diterima di pusat layanan kesehatan. Ia belum memberikan angka keseluruhan korban karena proses pencarian masih berjalan.
“Sayangnya, kami telah menerima sekitar 235 pasien yang tiba tanpa tanda-tanda vital atau meninggal dunia saat tiba di pusat-pusat layanan kesehatan kami,” kata Alvarado.
Kepala Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez sebelumnya melaporkan sekitar 200 orang masih terjebak reruntuhan. Sebanyak 250 bangunan juga dilaporkan rusak atau hancur akibat gempa. Sejumlah fasilitas publik ikut terdampak. Sedikitnya delapan rumah sakit, kantor pusat Palang Merah Venezuela, dan Kedutaan Besar Prancis dilaporkan mengalami kerusakan.
La Guaira, wilayah pesisir yang berbatasan dengan Caracas dan menjadi lokasi bandara utama Venezuela, termasuk daerah paling terdampak. Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello menyebut sekitar 70.000 keluarga terdampak di wilayah tersebut. Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez kemudian menyatakan La Guaira sebagai zona bencana.
Pemerintah Venezuela juga bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk mendatangkan alat berat guna mempercepat proses evakuasi. Pasokan listrik di sebagian wilayah La Guaira masih terbatas. Bandara utama Venezuela yang berada di negara bagian tersebut juga ditutup setelah mengalami kerusakan. Gempa besar itu sempat memicu peringatan tsunami di kawasan Karibia. Namun, peringatan tersebut kemudian dicabut setelah otoritas menyatakan ancaman tsunami telah berakhir.
Kerusakan Meluas, Bantuan Internasional Mulai Masuk
Operasi pencarian korban masih dilakukan petugas darurat dan relawan. Di sejumlah lokasi, warga ikut mencari keluarga mereka di antara reruntuhan bangunan. Sebuah situs pelacak orang hilang yang dibagikan pemimpin oposisi mencatat lebih dari 46.000 orang belum diketahui keberadaannya. Namun, Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen.
Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS juga memperkirakan jumlah korban jiwa masih dapat bertambah. Model prediktif USGS menunjukkan korban meninggal berpotensi meningkat hingga ribuan orang. Kondisi ini menambah beban Venezuela yang sebelum gempa sudah menghadapi krisis kemanusiaan. Kepala Bantuan PBB Tom Fletcher menyebut sekitar 8 juta warga Venezuela telah membutuhkan bantuan kemanusiaan sebelum bencana terjadi.
PBB menyatakan perlu ada upaya besar bersama untuk menangani dampak gempa. Organisasi itu juga mengoordinasikan tim penyelamat internasional yang akan membantu proses pencarian dan penanganan korban. Misi HAM PBB untuk Venezuela turut meminta pemerintah membuka pembatasan terhadap sejumlah media sosial. Menurut misi tersebut, akses komunikasi menjadi kebutuhan penting dalam situasi bencana.
Warga terdampak saat ini membutuhkan makanan, obat-obatan, tempat tinggal sementara, listrik, air bersih, dan akses komunikasi. Kerusakan bandara di La Guaira juga membuat distribusi bantuan menjadi bagian penting dalam penanganan darurat. Di tengah kerusakan tersebut, sektor minyak Venezuela dilaporkan sebagian besar tidak mengalami gangguan besar akibat gempa.
Minyak masih menjadi salah satu sektor utama perekonomian negara tersebut. Pemerintah Venezuela menyatakan tim penyelamat internasional diperkirakan segera datang. Delcy Rodriguez juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pemimpin dunia yang menawarkan bantuan, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
AS Kirim Bantuan Dalam Bayang-bayang Penangkapan Maduro
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang mengumumkan bantuan untuk Venezuela. Bantuan itu disampaikan ketika hubungan Washington dan Caracas masih dibayangi penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Januari lalu. AS akan mengirim dua kapal perang, sejumlah pesawat angkut, dan beberapa helikopter untuk membantu penanganan gempa. Washington juga menjanjikan bantuan sebesar 150 juta dolar AS untuk otoritas Caracas.
Bantuan tersebut terdiri dari dana hibah bilateral baru sebesar 50 juta dolar AS bagi kelompok-kelompok bantuan yang sudah beroperasi di Venezuela. Selain itu, AS menyiapkan kontribusi 100 juta dolar AS untuk dana kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB. Pasukan AS yang disiapkan mencakup kapal angkut amfibi USS Fort Lauderdale dan kapal tempur pesisir USS Billings. Washington juga menyiapkan pesawat angkut C-17 Globemaster dan C-130 Hercules.
AS turut mengerahkan Disaster Assistance Response Team atau DART. Dua unit pencarian dan penyelamatan spesialis perkotaan dari Fairfax County, Virginia, dan Los Angeles County, California, juga disiapkan untuk membantu operasi darurat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan respons Washington akan melibatkan seluruh unsur pemerintahan. Ia juga menyebut militer AS akan membantu dukungan logistik dalam operasi bantuan gempa. “Kami menerapkan respons yang melibatkan seluruh jajaran pemerintah. Respons ini akan berskala besar, cepat, dan efektif,” kata Rubio.
Washington juga melonggarkan sanksi dengan mengizinkan transaksi yang berkaitan dengan bantuan gempa. Trump menyatakan Amerika Serikat siap membantu Venezuela. Bantuan itu masuk ketika Venezuela masih berada dalam situasi politik pasca-Maduro. The New Humanitarian melaporkan Maduro dan istrinya dibawa ke New York untuk menghadapi proses hukum setelah operasi AS pada awal Januari 2026.
Laporan yang sama menyebut Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden pada 5 Januari 2026. Pemerintahan Rodriguez kini menghadapi situasi darurat setelah gempa kembar merusak Caracas, La Guaira, dan wilayah sekitarnya. The New Humanitarian juga menulis sebagian warga Venezuela menolak tindakan AS terhadap Maduro, termasuk mereka yang tidak mendukung Maduro. Laporan itu menyebut warga Venezuela masih menghadapi ketidakpastian politik dan ekonomi setelah peristiwa tersebut.
Kini, penanganan gempa berlangsung bersamaan dengan masuknya bantuan internasional, termasuk dari AS, PBB, dan sejumlah negara lain. Pemerintah Caracas masih berfokus pada pencarian korban, pemulihan fasilitas publik, serta distribusi bantuan bagi warga terdampak. Gempa kembar tersebut menambah beban Venezuela yang sebelumnya telah menghadapi krisis politik dan kemanusiaan. Penanganan bencana kini berjalan di tengah hubungan Caracas-Washington yang belum pulih sepenuhnya setelah penangkapan Maduro. (FAD)