Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Selasa (14/7/2026) malam. Meski guncangan terasa di sejumlah daerah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 22.49.37 WIB dengan episenter berada di laut, sekitar 198 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, pada koordinat 5,26 Lintang Utara dan 125,18 Bujur Timur. Hasil analisis terbaru menunjukkan gempa berkekuatan Magnitudo 6,2 dengan kedalaman 35 kilometer. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan, gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi.
Berdasarkan analisis mekanisme sumber, gempa memiliki karakter pergerakan geser-naik (oblique thrust). "Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ujar Wijayanto. Berdasarkan peta guncangan (shakemap) BMKG, getaran paling kuat dirasakan di Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan intensitas IV MMI, di mana gempa dirasakan banyak orang di dalam rumah, jendela dan pintu berderik, dan gerabah dapat pecah.
Untuk wilayah Kendahe di Kepulauan Sangihe dan Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud merasakan guncangan dengan intensitas III MMI, atau setara getaran yang terasa jelas di dalam rumah seperti saat truk besar melintas. Meski tidak berpotensi tsunami, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG dan otoritas setempat. (RAI)