JAKARTA, AFU.ID — Tarif listrik di Singapura naik 17 persen mulai Juli hingga September 2026. Kenaikan juga terjadi pada tarif gas kota sebesar 7,1 persen seiring melonjaknya harga gas alam di pasar global akibat konflik di Timur Tengah. Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) menyatakan harga gas alam melonjak sejak akhir Februari dan tetap tinggi sepanjang April hingga Juni. Kondisi tersebut berdampak pada biaya pembangkitan listrik dan penyediaan gas kota sehingga penyesuaian tarif dilakukan pada kuartal III 2026.
Perusahaan utilitas listrik utama Singapura, SP Group, mengumumkan tarif listrik rumah tangga naik 4,64 sen per kilowatt-jam (kWh) dibanding kuartal sebelumnya menjadi 31,91 sen per kWh sebelum pajak barang dan jasa (GST). Secara keseluruhan, tarif listrik, termasuk bagi pelanggan nonrumah tangga, meningkat rata-rata 17,5 persen atau 4,66 sen per kWh.
Sementara itu, penyedia gas kota, City Energy, juga menaikkan tarif gas rumah tangga sebesar 1,56 sen menjadi 23,48 sen Singapura per kWh sebelum GST. EMA menjelaskan tarif listrik dan gas ditinjau setiap tiga bulan berdasarkan harga gas alam pada sekitar dua setengah bulan sebelumnya. Karena mekanisme tersebut, lonjakan harga energi yang terjadi setelah konflik di Timur Tengah baru sepenuhnya tercermin pada tarif yang berlaku mulai Juli.
Mitra perusahaan konsultan energi The Lantau Group, David Broadstock, mengatakan kenaikan tarif listrik sebenarnya sudah diperkirakan, meski besarnya sedikit melampaui proyeksi awal, "Saya tidak terkejut bahwa kita melihat kenaikan besar kali ini. Ini konsisten dengan semua yang telah diperingatkan oleh Pemerintah," ujar Broadstock seperti dilansir The Strait Times, Selasa (30/6/2026). Menurutnya, besaran tarif baru tetap mencerminkan kondisi pasar karena komponen biaya energi masih menjadi faktor terbesar dalam pembentukan tarif listrik.
EMA juga mengingatkan pelanggan yang menggunakan kontrak listrik ritel berpotensi menghadapi tarif lebih tinggi saat memperbarui kontrak apabila harga bahan bakar global masih bertahan di level tinggi. Namun, EMA menilai tarif dapat kembali turun pada kuartal berikutnya apabila situasi di Timur Tengah membaik dan harga gas alam kembali melemah. (RAI)