JAKARTA, AFU.ID — Operasi pencarian dan penyelamatan korban gempa bumi di Venezuela menghadapi kendala baru setelah hujan deras terus mengguyur wilayah terdampak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan curah hujan tinggi meningkatkan risiko tanah longsor dan runtuhnya bangunan sehingga memperumit proses evakuasi yang masih berlangsung.
Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan gelombang tropis yang melanda Venezuela membuat kondisi di lapangan semakin berbahaya bagi tim penyelamat. Selain menghambat pencarian korban, cuaca ekstrem juga meningkatkan potensi bencana susulan di sejumlah lokasi terdampak. "Upaya penyelamatan semakin rumit akibat gelombang tropis dan curah hujan lebat yang terus-menerus melanda Venezuela. Risiko tanah longsor dan gedung runtuh makin tinggi," ujar Dujarric, Selasa (30/6/2026).
Di tengah kondisi sulit tersebut, operasi penyelamatan terus berpacu dengan waktu. PBB menyebut sekitar 50 tim pencarian dan penyelamatan yang diperkuat lebih dari 2.300 personel masih bekerja bersama otoritas Venezuela untuk mencari korban. Dujarric menegaskan peluang menemukan korban selamat semakin menipis seiring berlalunya waktu. Karena itu, tim penyelamat terus memprioritaskan operasi penyelamatan jiwa di zona-zona yang dinilai masih berpotensi terdapat korban.
Jumlah korban akibat dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 terus bertambah. Berdasarkan data terbaru pemerintah, korban meninggal mencapai 1.943 orang, sementara 10.571 orang mengalami luka-luka dan 15.866 warga kehilangan tempat tinggal.
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengatakan pemerintah telah membuka puluhan lokasi pengungsian untuk menampung warga terdampak. Sebanyak 14 titik pengungsian disiapkan di La Guaira, sedangkan 55 lokasi lainnya beroperasi di Caracas, Miranda, dan sejumlah wilayah terdampak.
Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di kawasan pesisir dan sekitar Caracas, dengan ribuan rumah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur transportasi mengalami kerusakan berat. Hingga kini, operasi pencarian masih melibatkan bantuan internasional dari 27 negara, dengan hampir 40 tim penyelamat, lebih dari 2.000 personel, dan sekitar 160 anjing pelacak yang diterjunkan ke lokasi bencana. (RAI)