AFU.ID - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengambil langkah diplomatik yang tidak biasa dengan merilis surat terbuka yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat pada Rabu 1 April 2026. Dalam pesannya, Pezeshkian mengkritik keras keterlibatan AS dalam konflik yang sedang berlangsung dan mempertanyakan tujuan dari peperangan tersebut.
Mengutip dari Times Now News, Pezeshkian menggambarkan konflik yang telah memasuki minggu kelima ini sebagai "operasi absurd" yang hanya memberikan beban biaya besar bagi Amerika Serikat tanpa keuntungan yang jelas.
"Hari ini, dunia berdiri di persimpangan jalan. Melanjutkan jalur konfrontasi jauh lebih mahal dan sia-sia dibandingkan sebelumnya," tulis Pezeshkian dalam suratnya.
Pezeshkian secara eksplisit mempertanyakan apakah perang ini benar-benar mewakili kepentingan warga Amerika atau hanya sekadar agenda politik tertentu. Ia juga menyinggung posisi AS yang dianggapnya bertindak sebagai proksi bagi Israel.
"Tepatnya, kepentingan rakyat Amerika mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini? Apakah ada ancaman objektif dari Iran yang membenarkan perilaku seperti itu?" tanyanya retoris dalam surat tersebut.
Ia juga menyentil slogan politik domestik AS dengan menulis, "Apakah 'America First' benar-benar menjadi salah satu prioritas pemerintah AS saat ini?"
Di sisi lain, masih mengutip dari Times Now News, tensi antara kedua negara semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa pihak Teheran telah meminta gencatan senjata. Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran.
Juru bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa pernyataan Trump adalah informasi yang tidak berdasar. Iran menyatakan tetap pada posisinya, yakni menuntut penghentian total serangan AS dan Israel di seluruh lini sebelum pembicaraan gencatan senjata dimulai.
Lebih lanjut, situasi global kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak dunia yang terganggu akibat konflik. Presiden Trump dikabarkan telah mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka kembali jalur pelayaran tersebut paling lambat pada 6 April mendatang.
Pezeshkian menegaskan bahwa Iran memiliki sejarah panjang dalam menghadapi agresi.
"Semua yang tersisa dari mereka (agressor) hanyalah nama-nama ternoda dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan bangga," pungkasnya.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua belah pihak, sementara dampak ekonomi global akibat gangguan di Selat Hormuz terus membayangi pasar internasional. (*)