JAKARTA AFU.ID — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil mengumpulkan lebih dari 1.000 paket bantuan penting untuk warga Gaza dalam sehari. Pencapaian itu diraih meski proses distribusi masih terkendala keterlambatan di pos pemeriksaan baru yang dibuka Israel.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut paket bantuan tersebut dikumpulkan melalui perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem pada Selasa (2/6/2026). Bantuan yang disalurkan mencakup perlengkapan kebersihan, terpal, selimut, hingga obat-obatan.
Namun, proses pengambilan dan distribusi bantuan masih menghadapi hambatan di lapangan. Konvoi kemanusiaan yang menuju perlintasan tersebut harus melewati pos pemeriksaan baru di Gaza selatan yang menyebabkan antrean dan keterlambatan.
Menurut OCHA, kemacetan di pos pemeriksaan itu bahkan menghambat enam truk bahan bakar yang seharusnya mencapai Kerem Shalom. Akibatnya, jumlah bahan bakar yang dapat diambil dari perlintasan tersebut berkurang secara signifikan.
"Penumpukan di pos pemeriksaan baru itu menghalangi enam truk bahan bakar untuk mencapai Kerem Shalom," kata OCHA.
OCHA menegaskan pasokan bahan bakar sangat dibutuhkan untuk menjaga layanan vital tetap berjalan. Rumah sakit, fasilitas pengolahan air, dan berbagai layanan kemanusiaan lainnya bergantung pada ketersediaan bahan bakar di tengah lumpuhnya jaringan listrik di Gaza.
Saat ini, Kerem Shalom/Karem Abu Salem menjadi satu-satunya jalur utama masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Karena itu, kelancaran operasional perlintasan tersebut dinilai sangat menentukan keberlangsungan bantuan bagi warga sipil.
Di sektor kesehatan, OCHA melaporkan hampir 100 pasien dan lebih dari 130 pendamping berhasil dievakuasi dari Gaza selama dua pekan terakhir Mei 2026. Evakuasi dilakukan melalui perlintasan Kerem Shalom dan Rafah dengan dukungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta sejumlah mitra kemanusiaan.
Meski demikian, ribuan pasien lainnya masih menunggu akses perawatan medis yang tidak tersedia di Gaza. Banyak di antaranya mengalami luka berat dan membutuhkan penanganan khusus di luar wilayah tersebut.
OCHA juga menyoroti masih tertutupnya jalur rujukan medis menuju fasilitas kesehatan di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Kondisi itu membuat banyak pasien kesulitan memperoleh layanan kesehatan lanjutan.
"Peningkatan layanan kesehatan di Gaza sangat diperlukan dan membutuhkan lebih banyak peralatan serta pasokan medis yang krusial," ujar OCHA.
Selain persoalan kesehatan, sektor air bersih juga menghadapi tekanan serius. Mitra kemanusiaan melaporkan produksi air di Gaza turun sekitar 20 persen pada Mei dibandingkan dua bulan sebelumnya akibat kelangkaan bahan kimia, suku cadang, pompa, pipa, dan perlengkapan penting lainnya. OCHA pun kembali mendesak agar pasokan kebutuhan tersebut segera diizinkan masuk guna memastikan layanan dasar tetap tersedia bagi warga Gaza. (ANT/RAI)