JAKARTA, AFU.ID — Ketegangan politik antara China dan Taiwan kembali mencuat setelah pemimpin Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa Taiwan bukan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Pernyataan tersebut langsung dibalas Beijing yang menegaskan Taiwan merupakan wilayah yang tidak terpisahkan dari China.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh seluruh rakyat China. Menurut Beijing, isu Taiwan sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri China dan tidak dapat dipisahkan dari prinsip Satu China.
Lin menegaskan tidak ada pernyataan maupun tindakan dari pemerintah Taiwan yang dapat mengubah status dasar Taiwan di mata China. Ia juga menyebut upaya mendorong kemerdekaan Taiwan tidak akan menghalangi proses reunifikasi yang dianggap sebagai keniscayaan oleh Beijing.
"Mereka juga tidak akan pernah menggoyahkan komitmen internasional terhadap satu China atau menghentikan keniscayaan reunifikasi China," tegas Lin Jian.
Pernyataan tersebut merupakan respons atas pidato Lai Ching-te dalam resepsi bersama media internasional di Taipei pada hari yang sama. Dalam kesempatan itu, Lai menegaskan bahwa kedaulatan Taiwan berada di tangan rakyat Taiwan dan menyatakan Taiwan maupun China tidak saling tunduk satu sama lain.
Lai juga menolak klaim bahwa Taiwan merupakan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok. Menurutnya, masa depan pulau itu harus ditentukan oleh masyarakat Taiwan sendiri melalui sistem demokrasi yang mereka jalankan.
Beijing menilai pernyataan tersebut sebagai bagian dari narasi kemerdekaan Taiwan yang terus diulang pemerintah Partai Progresif Demokratik (DPP). Lin menyebut langkah mencari kemerdekaan dengan dukungan Amerika Serikat maupun penguatan militer hanya akan menemui jalan buntu.
Di sisi lain, Lai menegaskan Taiwan akan tetap berpegang pada kondisi status quo dan berupaya menjaga perdamaian di kawasan. Ia menyatakan pemerintahannya berkomitmen mempertahankan demokrasi, kebebasan, serta memperluas kerja sama dengan komunitas internasional.
Taiwan juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara G7 yang dalam pernyataan bersama terbaru mereka menolak segala upaya mengubah status quo di Selat Taiwan, Laut China Timur, maupun Laut China Selatan melalui tekanan atau penggunaan kekuatan.
Lai turut mendesak China menghentikan ekspansi militernya di kawasan dan menghindari penggunaan kekerasan terhadap Taiwan. Menurutnya, stabilitas regional hanya dapat terwujud melalui dialog dan penghormatan terhadap perdamaian.
“Berdasarkan prinsip kesetaraan dan martabat, Taiwan bersedia terlibat dalam pertukaran dan kerja sama dengan China untuk mempromosikan perdamaian dan kemakmuran bersama,” ujar Lai Ching-te. (ANT/RAI)