AFU.ID - Pernyataan Donald Trump terdengar sederhana, bahkan nyaris menutup bab panjang konflik: perang dengan Iran, katanya, “sudah berakhir.” Disampaikan dalam wawancara dengan Fox News, tiga kata itu seperti memaku narasi—past tense, selesai, titik.
Tapi realitas di lapangan justru menolak tunduk pada kalimat singkat.
Di perairan Selat Hormuz, kapal-kapal masih diputar balik. Blokade laut oleh militer AS tetap berjalan. Bahkan dalam 24 jam pertama, sejumlah kapal dagang dilaporkan gagal melintas dan memilih kembali. Jika perang benar-benar selesai, lalu ini apa?
Di sinilah paradoks dimulai—dan mungkin, seperti yang sering terjadi dalam diskursus global, kebenaran tidak lagi berdiri tunggal, melainkan berlapis kepentingan.
Trump sendiri membuka celah lain. Dalam wawancara terpisah, ia menyebut peluang negosiasi baru dengan Iran bisa terjadi dalam “dua hari ke depan.” Lokasinya? Bukan Washington, bukan juga Eropa—melainkan Islamabad. Sebuah pilihan yang menandai bahwa konflik belum benar-benar ditutup, hanya mungkin dipindahkan ke meja diplomasi.
Negara-negara kawasan pun memberi sinyal serupa. Pakistan, Iran, hingga negara-negara Teluk membuka kemungkinan pertemuan lanjutan. Artinya sederhana: kalau perang sudah selesai, untuk apa negosiasi lanjutan?
Di sisi lain, tekanan tidak berhenti. Washington memperketat jalur keuangan, mengancam sanksi baru, dan mengunci ruang gerak ekonomi Teheran. Retorika damai berjalan beriringan dengan strategi penekanan. Dua wajah dalam satu kebijakan.
Sementara itu, Xi Jinping justru mengingatkan dunia agar tidak kembali pada “hukum rimba”—sebuah sindiran halus terhadap pendekatan sepihak yang kini mendominasi konflik global. Dunia, sekali lagi, terbelah dalam cara membaca krisis.
Di tengah semua itu, satu pertanyaan tetap menggantung: apakah ini benar-benar akhir, atau hanya jeda?
Dalam logika AFU, ini bukan sekadar soal siapa benar dan siapa salah. Ini soal bagaimana sebuah perang bisa “diakhiri” secara naratif, sementara realitasnya masih berdenyut—di laut, di pasar energi, di meja diplomasi, bahkan di kepala publik global.
Trump mungkin benar—versinya sendiri.
Tapi dunia tampaknya belum sepakat. (*)