Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Best Countries Index 2026: Indonesia Tempati Peringkat 33 Negara Paling Berkuasa di Dunia
Bagikan:
Penulis: Agung Riyadi
Ringkasan Berita
Dalam laporan Best Countries Index 2026 yang dirilis oleh Wharton School, University of Pennsylvania, Indonesia menempati peringkat ke-33 sebagai negara paling berkuasa di dunia, dengan skor kekuatan 12,1, berada di bawah Singapura dan Vietnam di Asia Tenggara. Meskipun Indonesia merupakan anggota G20 dengan PDB terbesar ketujuh secara global, persepsi kekuatannya dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri yang independen, kurangnya eksposur media internasional, dan penetrasi citra ekonomi yang lemah di luar Asia Tenggara. Laporan ini menyoroti pentingnya strategi komunikasi global yang lebih baik untuk meningkatkan pengakuan terhadap kekuatan dan pengaruh Indonesia.
Jakarta, pusat perekonomian Indonesia (ANTARA)
Sentimen Berita
100% sumber condong ke netral
Kiri0%
Netral100%
Kanan0%
JAKARTA, AFU.ID — Peta kekuatan global tahun ini kembali menegaskan dominasi Amerika Serikat di puncak dunia, disusul ketat oleh China dan Rusia. Lanskap ini terekam dalam Best Countries Index 2026 yang dirilis oleh Wharton School, University of Pennsylvania bekerja sama dengan US News & World Report dan WPP BAV (Brand Asset Valuator).
Dalam laporan terbaru ini, Indonesia menempati peringkat ke-33 global dalam sub-ranking Power (Kekuatan/Pengaruh Global) dengan skor kekuatan relatif sebesar 12,1. Berbeda dengan indeks militer seperti Global Firepower yang menghitung jumlah personel dan alutsista, sub-ranking "Power" dalam indeks ini murni mengukur persepsi publik global.
"Riset tahunan ini melibatkan survei berskala besar terhadap puluhan ribu responden global—termasuk pelaku bisnis, kalangan akademisi berpendidikan tinggi, dan masyarakat umum—serta secara spesifik menyaring pandangan 15.131 orang dewasa di 33 negara," demikian ungkap laporan tersebut, dikutip Rabu (15/7/2026).
Skor setiap negara dihitung secara relatif terhadap peringkat pertama yang otomatis mendapatkan nilai acuan sempurna (100). Persepsi kekuatan tersebut dibentuk oleh akumulasi penilaian terhadap 5 pilar utama. Pertama, Kepemimpinan (A Leader), yaitu kemampuan memimpin opini dan kebijakan global. Kedua, Pengaruh Ekonomi (Economically Influential), yaitu daya tawar dalam perdagangan internasional dan kendali rantai pasok.
Ketiga, Pengaruh Politik (Politically Influential), yaitu kekuatan lobi diplomatik dan kebijakan luar negeri. Keempat, Aliansi Internasional (Strong International Alliances), kedekatan strategis dalam kerja sama pertahanan dan ekonomi. Kelima, Kekuatan Militer (Military Power), yaitu ersepsi publik terhadap kapasitas pertahanan dan efek jera (deterrence).
Berdasarkan ukuran tersebut, Amerika Serikat masih mengamankan posisi puncak dengan skor 100 berkat statusnya sebagai pusat keuangan, kekuatan teknologi, dan jaringan aliansi global. Posisi ini selaras dengan data kekuatan tempur murni Global Firepower 2026 yang menempatkan militer AS di urutan pertama (skor PwrIndx 0,0741).
China membayangi di peringkat kedua dengan skor 93,6. Beijing kini dipersepsikan kuat bukan hanya karena ekonomi dan militer aktif terbesar (2 juta personel), tetapi juga karena pengaruhnya pada rantai pasok strategis seperti mineral tanah jarang. Menariknya, survei terpisah pada 46.667 responden di 85 negara menunjukkan citra China di beberapa kawasan dipandang lebih positif dibanding AS.
Di posisi ketiga, Rusia mempertahankan pengaruh geopolitiknya dengan skor 91,4 karena persepsi kekuatan nuklir, energi, dan militer yang masif, meski ukuran ekonominya di bawah para pesaingnya.
Di papan tengah 10 besar, pergeseran menarik terjadi. Korea Selatan melesat ke peringkat keenam (skor 62,7)—mengungguli Arab Saudi, Prancis, dan Jepang, berkat kombinasi inovasi teknologi industri dan ekspor budaya (Hallyu). Sementara Uni Emirat Arab (UEA) berhasil menembus 10 besar global, membuktikan bahwa negara berpopulasi kecil dapat dipersepsikan berkuasa lewat investasi strategis, logistik, dan diplomasi kawasan.
Posisi Indonesia: Peringkat ke-3 di Asia Tenggara, ke-12 di Asia
Di tingkat regional, Indonesia harus puas berada di bawah dua tetangganya. Di Asia Tenggara, Indonesia menempati peringkat ke-3, di belakang Singapura (Peringkat 22 global, skor 20,4) dan Vietnam (Peringkat 30 global, skor 14,2).
Sementara pada peta wilayah Asia secara keseluruhan (termasuk Asia Timur dan Timur Tengah), Indonesia berada di kisaran peringkat ke-12. Kendati demikian, posisi Indonesia tercatat masih berada di atas sejumlah negara maju dan berkembang lainnya seperti Polandia, Portugal, Austria, Argentina, Finlandia, hingga Bangladesh.
Duduknya Indonesia di peringkat ke-33 secara global ini memicu analisis mendalam mengenai adanya jurang (gap) antara data keras (hard data) dengan citra global (soft power) Indonesia. Secara riil, Indonesia adalah anggota G20 dengan PDB berbasis Purchasing Power Parity (PPP) di peringkat ke-7 dunia. Namun mengapa persepsi kekuatannya tertahan di urutan 33?
Ada tiga faktor utama yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, kebijakan luar negeri Indonesia yang independen dan enggan terikat pada pakta militer kaku membuat publik global mempersepsikan Indonesia tidak memiliki international aliances yang sekeras Singapura atau Vietnam (yang secara spesifik memiliki kemitraan pertahanan dengan kekuatan besar).
Kedua, soal efek eksposure media. Negara seperti Iran (Peringkat 16) mendapatkan persepsi kuat karena intensitas sorotan konflik geopolitik global. Sebaliknya, stabilitas keamanan domestik dan regional yang dijaga Indonesia membuatnya kurang mendapatkan eksposur geopolitik yang agresif di media Barat.
Ketiga, persepsi penetrasi citra ekonomi. Walau ekonomi domestik Indonesia sangat besar, penetrasi jenama (brand) global atau korporasi multinasional milik Indonesia di luar Asia Tenggara masih dinilai kalah bersaing dari agresivitas Singapura sebagai pusat keuangan dunia.
Laporan Best Countries Index 2026 ini menjadi indikator penting. Kepemimpinan demografi dan geografi yang dimiliki Indonesia di Asia Tenggara ternyata masih memerlukan strategi komunikasi global yang lebih solid untuk mengonversi kekuatan rill domestik menjadi pengaruh dan soft power yang diakui dunia.