JAKARTA, AFU.ID - Akademisi dari Universitas Emirates mengatakan kehadiran militer Amerika Serikat di Uni Emirat Arab (UEA) sudah tidak dibutuhkan lagi. Sebabnya negaranya sudah bisa melindungi dirinya sendiri seiring kemajuannya di bidang militer.
Dr Abdulkhaleq Abdulla, dosen ilmu politik sekaligus pengamat militer itu menyebut perlindungan keamanan AS secara langsung sudah tidak diperlukan lagi karena Emirat mampu melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan militer asing.
”Saatnya kita mempertimbangkan kembali masa depan keberadaan pangkalan militer AS di tanah kedaulatan UEA,” katanya, dikutip dari Reuters, Senin (20/4/2026).
Buktinya, lanjut Abdulkhaleq, kekuatan militer UEA mampu secara efektif dan efisien menghadapi serangan asimetris dari Iran tanpa bantuan dari militer AS.
Diketahui, militer AS bahkan meninggalkan pangkalannya saat serangan tertarget dari Iran yang meninggalkan kesan buruk bagi banyak pengamat. Terlebih ada beberapa markas rahasia operator intelijen AS di sana yang menjadi target drone Iran.
Untuk itu, justru fungsi kehadiran militer AS di sana patut dipertanyakan, karena terbukti tunggang langgang saat serangan Iran berlangsung. Tidak menjadi pelindung dan malah menjadi target sasaran rudal.
”Sudah waktunya menutup pangkalan militer AS karena justru menjadi beban ketimbang sebagai aset pertahanan strategis,” tegas dia.
Menurut dia, kehadiran militer AS di tempatnya justru menjadi masalah serius karena malah akan menyeret UEA ke arena konflik kawasan yang mana itu bukan merupakan kepentingan langsung negaranya yang tidak terlibat dan berperan langsung.
Dia menilai, saat ini UEA lebih baik fokus pada pengembangan kapasitas militernya sendiri sebagai alat pertahanan negara dari pada mempertahankan keberadaan militer asing. Meski begitu, pihaknya tidak ingin negaranya memutus sepenihnya kerja sama pertahanan dengan AS.
“UEA lebih butuh teknologi militer dan peralatan canggih dari AS dari pada mempertahankan keberadaan militernya,” pamungkas dia.
Pangkalan AS di Negara Teluk
UEA sendiri merupakan tempat strategis bagi hilir mudik pasukan AS di kawasan. Negara keemiran ini menjadi fasilitas penting pertahanan pasukan AS karena lokasinya cukup strategis, karena paling dekat dengan Pulau Hormuz, Iran.
Ada dua pangkalan militer di UEA, yaitu pangkalan militer Al Dhafra Air Base, yang menjadi pangkalan udara utama untuk operasi intelijen, pengisian bahan bakar udara, dan misi tempur.
Kedua adalah Jebel Ali Port, yang berfungsi sebagai pelabuhan logistik dan tempat sandar kapal Angkatan Laut AS. Tidak semua fasilitas ini berstatus “pangkalan permanen penuh”, sebagian berupa akses atau hub logistik.
Jumlah pasukan AS di UEA diperkirakan sekitar kurang lebih 5.000 personel yang sebagian besar terpusat di Al Dhafra dan fasilitas pendukungnya. Dibanding negara lain di Teluk, angka ini moderat, lebih kecil dari Kuwait atau Qatar, tetapi tetap signifikan karena UEA berfungsi sebagai basis udara strategis untuk operasi regional, termasuk pengawasan dan misi drone.
Pangakalan AS di UEA diketahui juga merupakan titik awal serangan udara di beberapa kawasan, termasuk di Suriah dan Iraq.
Secara keseluruhan di kawasan Teluk (Gulf), jaringan pangkalan AS tersebar di beberapa negara utama: Qatar (Al Udeid Air Base), Bahrain (Naval Support Activity Bahrain), Kuwait (Camp Arifjan, Ali Al Salem, Camp Buehring), Arab Saudi (Prince Sultan Air Base), serta UEA.
Jika dihitung, ada belasan lokasi utama di Teluk sebagai bagian dari total sekitar ≥19 situs militer AS di Timur Tengah, statusnya ada yang permanen dan ada yang rotasional.
Sementara itu, jumlah total pasukan AS di seluruh kawasan Teluk dan Timur Tengah saat ini berada di kisaran 40.000–50.000 tentara.
Distribusinya tidak merata: Qatar menampung sekitar 10.000 (terbesar), Kuwait ±13.500, Bahrain ±9.000, UEA ±5.000, dan sisanya tersebar di Arab Saudi, Yordania, Irak, serta lokasi lain. Struktur ini menunjukkan bahwa UEA bukan pusat terbesar, tetapi tetap bagian penting dari jaringan militer AS di Teluk yang berfungsi sebagai titik operasi udara dan logistik strategis, dikutip dari Al Jazeera. (EER)