JAKARTA, AFU.ID — Erlan, pria yang diduga terlibat dalam kematian ASN Kabupaten Bangkalan Ruly Yunis Setiawati, belum tertangkap selama 27 hari sejak jasad korban ditemukan. Penyidik bahkan membuka sayembara Rp20 juta menggunakan dana pribadi untuk mendapatkan informasi yang mengarah pada penangkapannya. Tim gabungan juga telah menyisir sedikitnya lima wilayah di luar Jawa Timur serta memeriksa lingkaran keluarga dan pertemanan Erlan. Namun hingga kini, pria berusia 54 tahun tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO).
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur AKBP Arbaridi Jumhur mengatakan Erlan terus berpindah tempat sehingga pengejaran belum membuahkan hasil. “Memang diduga pelaku ini sangat licin,” kata Jumhur. Polisi telah mendatangi sejumlah alamat yang pernah ditempati Erlan, tetapi ia disebut sudah berpindah sebelum petugas tiba. Status DPO belum diterbitkan karena penyidik masih perlu mengamankan dan mencocokkan keterangannya dengan saksi lain.
Sayembara Rp20 juta diumumkan Kepala Tim Operasional Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur Aipda Sigit Dwi Susanto. Dana tersebut bukan berasal dari anggaran kepolisian, melainkan dari dana pribadi penyidik dan sumbangan masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus. “Yang penting kita bisa mempersempit ruang gerak pelaku,” ujar Sigit. Sejumlah informasi telah masuk sejak sayembara diumumkan, namun belum ada yang mengarah langsung ke lokasi persembunyian Erlan.
Keluarga Ruly juga melakukan pelacakan dan menyebut jejak Erlan sempat mengarah ke Jimbaran, Bali, serta Tasikmalaya, Jawa Barat. Kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya, menduga Erlan tidak mungkin bertahan hampir sebulan tanpa bantuan pihak lain. “Tidak mungkin kalau tidak ada orang yang membantunya,” kata Risang. Dugaan adanya pihak yang menampung, mengirim makanan, dan memenuhi kebutuhan Erlan belum dikonfirmasi oleh kepolisian.
Risang menyebut Erlan telah mengganti nomor telepon dan hanya mengaktifkan perangkat saat hendak menghubungi seseorang. Setelah itu, telepon kembali dimatikan sehingga jejaknya muncul dan menghilang dalam waktu singkat. Erlan juga disebut tidak menggunakan media sosial secara terbuka dan lebih sering mengakses aplikasi perkenalan seperti WeChat dan MiChat. Polisi belum membuka hasil pelacakan digital maupun memastikan aplikasi yang digunakan selama pelarian.
Ruly ditemukan meninggal di dalam mobil dinas bernomor polisi M 1090 GP di area parkir Terminal 1 Bandara Juanda pada Rabu (24/6/2026). Mobil tersebut mengeluarkan cairan dan bau menyengat hingga menarik perhatian seorang pengemudi ojek daring. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan kendaraan itu masuk ke area parkir dengan dikemudikan pria berpakaian gelap, memakai masker, dan berkacamata. Polisi menduga pria tersebut adalah Erlan yang sebelumnya terlihat bersama Ruly di Kota Batu.
Polda Jawa Timur masih membantu Polresta Sidoarjo dalam pengejaran Erlan dan pengungkapan rangkaian kematian Ruly. Hingga kini, penyidik belum mengumumkan motif, menetapkan tersangka, maupun menjelaskan alasan formal Erlan belum masuk DPO meski telah diburu lintas wilayah. Keluarga meminta siapa pun yang mengetahui keberadaan Erlan tidak ikut melindungi atau memenuhi kebutuhannya selama pelarian. Penangkapan Erlan dinilai penting untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi sebelum jasad Ruly ditinggalkan di dalam mobil dinas di Bandara Juanda. (RHU)