JAKARTA, AFU.ID — Valuasi saham Indonesia dinilai mulai menarik, tetapi belum cukup untuk mendorong investor asing kembali masuk secara agresif. Pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan dan katalis jangka pendek yang lebih kuat.
Senior Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Caroline Rusli mengatakan harga saham yang murah tidak otomatis membuat investor asing kembali memborong saham Indonesia.
Menurut dia, faktor kepercayaan terhadap arah kebijakan, visibilitas pertumbuhan, dan katalis pasar masih menjadi penentu utama arus modal asing.
“Indonesia saat ini berada pada fase selective value. Strategi defensif dan identifikasi saham maupun sektor pilihan melalui pendekatan bottom-up menjadi sangat krusial,” kata Caroline dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Caroline menilai kondisi pasar saat ini menunjukkan perbedaan yang semakin jelas antarwilayah, mata uang, dan kelas aset. Dalam situasi likuiditas global yang tidak lagi selonggar sebelumnya, investor cenderung memilih pasar yang memiliki pertumbuhan struktural lebih kuat.
“Ketika likuiditas global tidak seakomodatif sebelumnya, pasar saham yang dapat unggul adalah pasar yang memiliki potensi pertumbuhan struktural dan laba korporasi yang lebih kokoh bertahan, seperti misalnya Asia Utara,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Asia Utara dinilai masih lebih menarik dibandingkan sejumlah pasar berkembang lain. Kawasan itu memiliki keterkaitan langsung dengan pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), industri semikonduktor, dan belanja modal teknologi global.
Belanja modal perusahaan hyperscaler seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft juga disebut terus mengalami revisi naik. Kondisi itu diperkirakan lebih dulu memberi dampak positif bagi rantai pasok teknologi di Asia.
Sektor yang berpotensi terdorong antara lain semikonduktor, komponen elektronik, material canggih, serta infrastruktur pendukung energi.
Karena itu, kekuatan pasar Asia tidak hanya ditopang valuasi murah, tetapi juga prospek pertumbuhan laba yang memiliki katalis struktural. Caroline menyebut hal itu tercermin dari kinerja pasar saham Asia sepanjang 2026 di tengah volatilitas global.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan. Valuasi yang murah memang membuka peluang, tetapi investor asing tetap membutuhkan keyakinan bahwa pertumbuhan laba emiten, stabilitas kebijakan, dan prospek ekonomi domestik cukup kuat untuk menopang pasar.
Dengan kondisi tersebut, strategi investasi dinilai perlu lebih selektif. Investor tidak cukup hanya melihat indeks secara umum, tetapi perlu memilah sektor dan saham yang memiliki fundamental lebih kuat di tengah ketidakpastian global.
Pasar saham Indonesia pada akhirnya tidak hanya bersaing lewat harga yang murah. Daya tariknya akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan korporasi menghadirkan katalis yang meyakinkan, terutama di tengah persaingan dengan kawasan Asia lain yang lebih dekat dengan tren teknologi global. (RHU)