FIFA berencana menjual saham minoritas dari FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan yang akan mengelola bisnis Piala Dunia dan kompetisi lainnya, dengan nilai estimasi mencapai sekitar Rp361 triliun. Joshua Kushner, adik menantu Donald Trump, melalui perusahaannya Thrive Eternal, menjadi salah satu calon investor dalam penawaran ini, di mana FIFA menargetkan pengumpulan dana hingga Rp75 triliun pada 2026. Meskipun UEFA menolak rencana ini dengan alasan bahwa sepak bola tidak dapat diperlakukan sebagai aset komersial, FIFA menegaskan bahwa kendali atas keputusan sepak bola tetap berada di tangan mereka, dan dana yang diperoleh akan digunakan untuk pengembangan program sepak bola di seluruh dunia.
Presiden AS Donald Trump (kiri) berbincang dengan Presiden FIFA Gianni Infantino saat upacara pemberian penghargaan setelah pertandingan final antara Spanyol dan Argentina di Piala Dunia FIFA 2026. ANTARA/Xinhua/Jia Haocheng/aa.
JAKARTA, AFU.ID – FIFA akan menjual saham minoritas perusahaan baru yang mengelola bisnis Piala Dunia dan kompetisi lainnya. Perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner, adik Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, disebut masuk dalam bursa calon investor. Dilansir dari ABC News, Rabu (29/7/2026), perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) tersebut ditaksir bernilai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp361 triliun.
FFE akan mengelola kegiatan komersial Piala Dunia, Piala Dunia Antarklub, dan kompetisi FIFA lainnya. FIFA menargetkan penjualan saham dapat menghimpun dana hingga 4,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp75 triliun pada 2026. Saham akan ditawarkan kepada investor yang bersedia menanamkan modal dalam jangka panjang. FIFA telah menunjuk JP Morgan untuk membantu mempersiapkan transaksi tersebut.
Salah satu calon investor yang disebut ialah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner. Joshua merupakan adik Jared Kushner, suami Ivanka Trump sekaligus menantu Donald Trump. FIFA belum mengumumkan daftar lengkap calon investor maupun jumlah saham yang akan ditawarkan kepada setiap pihak. Perusahaan tersebut masih berstatus calon investor dan belum diumumkan sebagai pembeli saham FFE.
FIFA menegaskan hanya akan melepas saham minoritas. Organisasi sepak bola dunia itu tetap menjadi pemegang saham mayoritas sekaligus pengendali perusahaan. Seluruh keputusan mengenai tata kelola sepak bola, kalender pertandingan, regulasi, dan penyelenggaraan kompetisi disebut tetap berada di bawah FIFA. Investor hanya akan memiliki bagian dalam perusahaan yang menjalankan kegiatan komersial.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan dana dari penjualan saham akan digunakan untuk memperluas program pengembangan sepak bola. Konsultasi dengan seluruh federasi anggota telah dimulai sebelum rencana tersebut diajukan untuk mendapatkan persetujuan. FIFA memiliki 211 federasi anggota. Setiap anggota harus menyetujui pembentukan dan penjualan saham FFE sebelum transaksi dapat dijalankan.
Melalui skema tersebut, setiap federasi anggota berpeluang memperoleh suntikan modal satu kali hingga 20 juta dollar AS atau sekitar Rp361 miliar. Dana akan disalurkan melalui program pengembangan FIFA. FIFA juga merencanakan peningkatan dana melalui program FIFA Fast-Forward hingga 2038. Dalam siklus komersial Piala Dunia 2027–2030, setiap federasi anggota dijadwalkan menerima 8 juta dollar AS atau sekitar Rp144 miliar. Nilai tersebut akan dinaikkan menjadi 20 juta dollar AS pada siklus berikutnya. Dana kemudian direncanakan meningkat menjadi 22 juta dollar AS atau sekitar Rp397 miliar dan 24 juta dollar AS atau sekitar Rp434 miliar.
UEFA menolak rencana FIFA memasukkan investor swasta ke perusahaan yang mengelola bisnis kompetisi. Badan sepak bola Eropa itu menyatakan sepak bola tidak dapat diperlakukan sebagai aset untuk diperjualbelikan. “Ini bukan sesuatu yang bisa dijual FIFA. Tidak seorang pun dari kita adalah pemilik sepak bola,” demikian pernyataan UEFA.
UEFA juga mempertanyakan pihak yang nantinya memperoleh keuntungan dari FFE. FIFA dinilai belum menjelaskan secara terbuka susunan kepemilikan, hak pemegang saham, dan keuntungan yang akan diterima investor. “Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial,” kata UEFA.
FIFA menyatakan masuknya investor tidak akan memberikan kewenangan untuk mengatur pertandingan atau kompetisi. Kendali terhadap keputusan sepak bola tetap dipertahankan oleh FIFA. Rencana pembentukan FFE diumumkan setelah FIFA membukukan pendapatan sekitar 12 miliar dollar AS atau Rp217 triliun dari Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Infantino telah menyampaikan garis besar pembentukan perusahaan kepada anggota FIFA dalam pertemuan di Manhattan pada 18 Juli 2026. Pertemuan berlangsung menjelang pertandingan final Piala Dunia. Rencana tersebut bukan upaya pertama Infantino menggandeng investor swasta. Pada 2018, ia pernah mengusulkan kerja sama senilai 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp452 triliun bersama SoftBank. Kerja sama itu disiapkan untuk mengembangkan sejumlah kompetisi baru, termasuk perubahan format Piala Dunia Antarklub. (FAD)