JAKARTA, AFU.ID — Rupiah membuka pekan dengan nada yang tidak nyaman. Senin, 11 Mei 2026, mata uang Garuda dibuka melemah 0,06% ke Rp17.370 per dolar AS, melanjutkan depresiasi pada penutupan Jumat (8/5/2026) di Rp17.360 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar fluktuasi harian—ini sinyal tekanan yang belum reda.
Data Refinitiv menunjukkan pelemahan terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,16% ke level 98,052 pada pukul 09.00 WIB. Dolar kembali menjadi pelarian global. Ketika ketidakpastian meningkat, pasar tidak mencari alternatif—mereka kembali ke yang dianggap paling aman.
Beberapa pengamat moneter menilai, akar masalahnya bukan di dalam negeri semata. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung sekitar 10 pekan kembali memanas. Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran dengan label “totally unacceptable”. Penolakan ini bukan hanya retorika diplomatik—ini sinyal bahwa deeskalasi belum ada di depan mata.
Iran sebelumnya menawarkan skema kompromi: memindahkan sebagian uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga. Namun, Teheran tetap menolak membongkar infrastruktur nuklirnya. Artinya jelas—kebuntuan berlanjut, risiko global naik, dan pasar bereaksi cepat. Rupiah, seperti biasa, berada di barisan depan yang menerima tekanan.
Namun, menyalahkan faktor eksternal saja terlalu mudah.
Melansir CNBC, dari dalam negeri, pasar justru melihat sinyal yang lebih mengkhawatirkan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang akan dirilis Bank Indonesia menjadi penentu arah berikutnya. Data Maret sudah memberi peringatan: turun ke 122,9 dari 125,2—level terendah sejak Oktober tahun lalu.
Lebih dalam lagi, komponen ekspektasi ikut melemah. Ekspektasi kondisi ekonomi turun 4 poin ke 130,4. Ekspektasi pendapatan enam bulan ke depan turun 3 poin ke 137,7. Ini bukan sekadar angka—ini cerminan psikologi publik. Ketika keyakinan melemah, konsumsi ikut tertahan. Dan ketika konsumsi melemah, mesin utama pertumbuhan ekonomi ikut tersendat.
Konsensus pasar memproyeksikan IKK April kembali turun ke kisaran 122. Jika benar, maka tekanan terhadap rupiah bukan lagi soal sentimen global—tapi soal daya tahan domestik yang mulai diuji.
Di titik ini, rupiah seperti berdiri di dua sisi tekanan: global yang memanas, domestik yang melunak. Pertanyaannya bukan lagi apakah rupiah akan tertekan, tapi seberapa dalam dan berapa lama.
Pasar sudah memberi sinyal. Tinggal bagaimana respons kebijakan membaca arah, bukan sekadar merespons gejala. (*)