JAKARTA, AFU.ID - Kementerian Pariwisata melihat tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara jeli sebagai peluang positif untuk mendongkrak industri pelesiran nasional. Kondisi ini dinilai dapat menjadi magnet kuat bagi wisatawan mancanegara (wisman) untuk memilih Indonesia sebagai destinasi liburan utama mereka.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menjelaskan bahwa dengan nilai kurs saat ini, biaya berwisata di Indonesia menjadi jauh lebih kompetitif bagi para turis asing. Hal tersebut berpotensi memperpanjang durasi liburan mereka di tanah air.
“Kami melihat pelemahan rupiah ini menjadi satu peluang bagi Indonesia untuk memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan. Dengan situasi ini, length of stay atau lama tinggal wisman di Indonesia bisa menjadi lebih lama dari biasanya,” ujar Ni Luh Puspa di sela pameran pariwisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (30/5/2026).
Ni Luh Puspa tidak menampik bahwa lesunya nilai tukar rupiah saat ini berkaitan erat dengan dinamika geopolitik global dan dampak konflik yang sedang berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Meski dibayangi ketidakpastian global, performa sektor pariwisata Indonesia pada awal tahun ini nyatanya tetap kokoh. Data Kementerian Pariwisata sepanjang Januari hingga Maret (Triwulan I) 2026 mencatatkan grafik kunjungan wisman yang terus meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 lalu.
Kemenpar berharap pada laporan Triwulan II-2026 nanti, Bank Indonesia dapat membukukan torehan yang jauh lebih positif, baik dari sisi angka kunjungan mutakhir maupun perolehan devisa negara di sektor pariwisata.
Untuk memaksimalkan momentum ini di tengah krisis global, Wamenpar mengajak para pelaku usaha dan industri pariwisata domestik untuk adaptif dalam membaca peta pasar internasional. Kemenpar menyarankan pelaku industri mulai mengalihkan fokus target ke negara-negara tetangga yang jaraknya lebih dekat.
Strategi substitusi pasar ini dirumuskan melalui diantaranya, memaksimalkan promosi dan paket wisata ke negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia Timur yang secara geografis lebih dekat.
Kemudian, pasar dekat ini disiapkan untuk menambal penurunan jumlah turis dari kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah yang mobilitasnya sedang terganggu akibat isu geopolitik.
“Data triwulan pertama memang menunjukkan wisman dari rute medium-haul dan short-haul mengalami peningkatan signifikan, sedangkan dari kawasan Timur Tengah terpantau menurun,” sambung Ni Luh Puspa.
Guna menangkap peluang tersebut, Kemenpar kini tengah gencar melakukan misi penjualan (sales mission) serta aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran perjalanan internasional. Wamenpar optimistis, lewat kolaborasi kuat antara pemerintah dan pelaku usaha, target pariwisata nasional 2026 tetap dapat dicapai secara maksimal.
(ANT/MAR)