Penulis: Fadhlan Robbani · Reporter: Fadhlan Robbani
JAKARTA, AFU.ID – Kebutuhan batu bara PT PLN (Persero) pada 2026 mencapai 154 juta metrik ton. Namun, hingga Mei, volume yang telah dikontrakkan baru 144 juta metrik ton dengan perkiraan pengiriman sebesar 130,5 juta metrik ton. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meminta PLN Energi Primer Indonesia mempercepat penyelesaian kontrak agar pasokan ke pembangkit listrik tenaga uap tidak tersendat.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno mengatakan pemerintah telah menugaskan perusahaan pertambangan pemegang rencana kerja dan anggaran biaya untuk memasok total 212 juta metrik ton batu bara. Jumlah penugasan itu lebih tinggi dibandingkan kebutuhan tahunan PLN yang mencapai 154 juta metrik ton. “Untuk memenuhi kebutuhan PLN sebesar 154 juta metrik ton, kami telah memberikan penugasan kepada badan usaha pertambangan dengan total volume 212 juta metrik ton,” kata Tri dalam keterangannya, Sabtu (11/7/2026).
Meski volume penugasan telah melampaui kebutuhan, batu bara belum dapat langsung dikirim ke PLTU sebelum terikat dalam kontrak antara PLN EPI dan perusahaan tambang. “Kontrak menjadi dasar pelaksanaan pengiriman batu bara ke PLTU. Karena itu, kami terus mendorong PLN EPI untuk mempercepat proses kontrak,” ujar Tri.
Ditjen Minerba terus berkoordinasi dengan PLN EPI dan perusahaan pertambangan untuk memastikan batu bara dikirim sesuai jadwal, volume, dan spesifikasi yang dibutuhkan setiap pembangkit. Pengawasan dilakukan melalui pelaksanaan kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation untuk sektor kelistrikan dan nonkelistrikan.
Tri mengatakan percepatan kontrak diperlukan untuk menjamin kebutuhan batu bara PLN pada semester II 2026 dapat dipenuhi. “Pemerintah terus memastikan agar kebutuhan batu bara PLN pada semester II 2026 dapat dipenuhi sesuai jadwal dan spesifikasi pembangkit,” katanya. Selain jumlah pasokan, pemerintah juga menghadapi persoalan kesesuaian kualitas batu bara.
Sejumlah PLTU membutuhkan batu bara berkalori menengah hingga tinggi, sementara ketersediaannya disebut lebih terbatas dibandingkan batu bara berkalori rendah. Pemerintah sebelumnya memberikan tambahan pasokan batu bara berkalori menengah untuk PLN sebesar 1,8 juta ton pada Juli. Tambahan pasokan kemudian direncanakan mencapai tiga juta ton per bulan pada Agustus hingga Desember 2026. (FAD)