Jakarta, Kamis, (16/04/26) AFU.ID — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai langkah diplomasi Indonesia yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dan Prancis, memiliki relevansi strategis menjaga ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik.
Bhima dihubungi di Jakarta, Kamis menjelaskan kunjungan ke Rusia masih berada dalam kerangka diplomasi untuk mengamankan pasokan minyak, sementara pendekatan ke Prancis lebih diarahkan pada sektor pertahanan.
"PLN dan Danantara diharapkan segera melakukan tindaklanjut investasi energi terbarukan karena relevan dengan kondisi krisis energi global," katanya
Ia menilai konteks kerja sama tersebut tidak terlepas dari situasi war economy, yakni kolaborasi ekonomi yang berlangsung di tengah ketegangan dan konflik global.
Menurutnya, rencana pembelian minyak dari Rusia perlu mempertimbangkan sejumlah aspek kelayakan bisnis, seperti biaya logistik, harga acuan, serta kesesuaian dengan kebutuhan kilang domestik.
Perbandingan harga dengan negara pemasok lain seperti Azerbaijan juga perlu dilakukan guna memastikan efisiensi.
Selain itu, Bhima mengingatkan adanya potensi risiko retaliasi maupun sanksi yang berkaitan dengan komitmen Indonesia dalam skema agreement on reciprocal trade (ART) yang mengharuskan penghindaran kerja sama dengan negara yang menjadi objek sanksi.
Di sisi lain, hasil kunjungan ke Prancis dinilai perlu difokuskan pada peningkatan investasi untuk mendukung transisi energi, dengan memperkuat implementasi Just Energy Transition Partnership (JETP).
Lebih lanjut, Bhima menilai Prancis memiliki sejumlah keunggulan teknologi yang relevan bagi Indonesia dalam mempercepat transisi energi. Teknologi energi gelombang laut menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan, mengingat Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang.
Selain itu, pengembangan panel surya berbasis smart grid serta teknologi tenaga angin dinilai cocok untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Oleh karena itu, dirinya mendorong PT PLN (Persero) dan Danantara untuk segera menindaklanjuti peluang investasi energi terbarukan tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab tantangan krisis energi global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, Presiden Prabowo Subianto membawa pulang berbagai kesepakatan kemitraan strategis dari kunjungan kenegaraan ke Rusia dan Prancis.
"Tiba di tanah air, Presiden Prabowo membawa pulang oleh-oleh berbagai kesepakatan strategis," ujar Teddy saat dikonfirmasi ANTARA, Rabu (15/4).
Di Moskow, kata Teddy, Prabowo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin negara menegaskan peningkatan kerja sama terkait pasokan energi nasional jangka panjang, termasuk cadangan minyak mentah dan LPG.
Presiden Prabowo juga menugaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menemui utusan khusus Presiden Putin dan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev guna pembahasan lanjutan secara lebih detail kerja sama tersebut di Moskow.
Sementara itu di Paris, Teddy menyampaikan bahwa Presiden Prabowo bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk membahas peningkatan kerja sama di bidang energi, pendidikan, komunikasi digital, serta investasi ekonomi jangka panjang.
Seskab menyatakan, kunjungan ke dua negara tersebut menghasilkan capaian konkret bagi Indonesia, mengingat keduanya merupakan negara besar dengan sumber daya melimpah serta memiliki peran penting di tingkat global. (ANT/RHU)