JAKARTA, AFU.ID - Dunia kembali mencium bau krisis dari barel-barel minyak yang memanas. Jumat pagi, 22 Mei 2026, harga minyak dunia melonjak tajam setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu.
Pasar langsung bereaksi. Minyak mentah Brent melesat ke level USD104,52 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik ke USD97,81 per barel. Kenaikan itu datang setelah tiga hari harga minyak sempat terkoreksi.
Yang membuat pasar kembali panas adalah sikap keras Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, disebut tetap menolak pengiriman uranium yang telah diperkaya keluar negeri. Padahal sebelumnya Presiden Donald Trump sempat memberi sinyal bahwa proposal damai kedua negara sudah memasuki tahap akhir.
Alih-alih mereda, tensi justru naik.
Investor mulai menghitung ulang risiko perang yang berkepanjangan. Sebab konflik Iran sejak akhir Februari telah mengganggu jalur vital Selat Hormuz—urat nadi energi dunia yang biasa dilalui hampir seperlima distribusi minyak dan gas global.
Ketika Selat Hormuz terganggu, bukan hanya tanker yang tersendat. Inflasi ikut bergerak. Harga pangan ikut merangkak. Ongkos logistik ikut membengkak. Dunia seperti kembali dipaksa mengingat bahwa minyak masih menjadi denyut ekonomi global.
International Energy Agency bahkan mulai memberi alarm. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyebut pasar energi dunia mulai memasuki “zona merah” di tengah stok global yang terus menipis.
Negara-negara berkembang disebut bakal menjadi korban paling awal. Asia dan Afrika diperkirakan menerima pukulan terberat jika konflik terus berlanjut dan distribusi energi tidak segera pulih.
Di tengah situasi itu, pasar kini bergerak dengan satu pertanyaan: apakah Washington dan Teheran masih punya ruang kompromi?
Sebab jika diplomasi benar-benar buntu, yang terbakar bukan hanya Timur Tengah. Dunia bisa kembali menghadapi gelombang inflasi baru, pelemahan ekonomi, hingga tekanan berat terhadap mata uang negara berkembang.
Dan ketika minyak kembali menyala di atas USD100 per barel, banyak negara mulai sadar: perang hari ini tidak selalu terdengar dari dentuman senjata. Kadang ia datang lewat angka di papan perdagangan energi dunia. (*)