AFU.id

Harga BBM Turun, Inflasi Transportasi Masih Bebani Rumah Tangga

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% pada Juli 2026, berkat penurunan harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan melimpahnya pasokan komoditas hortikultura. Namun, inflasi pada kelompok transportasi masih mencapai 0,52%, menunjukkan bahwa biaya mobilitas masyarakat belum menurun seiring dengan penurunan harga energi. Meskipun secara umum inflasi mengalami penurunan, tekanan pada pengeluaran rumah tangga tetap ada, terutama dari biaya transportasi dan beberapa kebutuhan lain yang masih mengalami kenaikan harga.

Harga BBM Turun, Inflasi Transportasi Masih Bebani Rumah Tangga
Petugas SPBU menuang BBM jenis Pertamax ke tangki kendaraan pelanggan. (Foto: PT Pertamina Patra Niaga)

Deflasi Juli 2026 Tidak Sepenuhnya Mengurangi Tekanan Biaya Transportasi Rumah Tangga

Membaca angka deflasi Juli 2026 tanpa melihat inflasi tahunan berpotensi menghasilkan kesimpulan yang kurang utuh. Secara tahunan, Indonesia masih mencatat inflasi sebesar 2,88% atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Artinya, harga berbagai kebutuhan masyarakat tetap berada pada level lebih tinggi ketimbang Juli 2025.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua secara tahunan setelah makanan, minuman, dan tembakau. BPS mencatat, inflasi transportasi mencapai 5,12% dengan andil sebesar 0,62% terhadap inflasi nasional. Angka itu memperlihatkan biaya mobilitas masih menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap pengeluaran masyarakat.

Sarpono menyampaikan, tekanan inflasi tahunan kelompok transportasi berasal dari lebih dari satu komoditas. Selain bensin, kenaikan tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan mobil ikut memberikan andil terhadap inflasi sepanjang Juli 2026. “Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada Juli 2026 adalah bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga,” tuturnya.

Oleh karenanya, deflasi Juli 2026 seharusnya tak hanya kita pandang sebagai indikator keberhasilan pengendalian harga. Pemerintah RI juga perlu memastikan penurunan harga energi benar-benar diterjemahkan menjadi ongkos transportasi yang lebih rendah agar manfaatnya dirasakan langsung masyarakat. Tanpa perbaikan mekanisme itu, ruang belanja rumah tangga tetap berpotensi tertekan di saat inflasi bulanan berhasil terkendali.

Sebagai informasi, BPS melaporkan bahwa PT Pertamina Patra Niaga telah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 1 Juli 2026. Pertamax Turbo (RON 98) mayoritas turun sebesar Rp1.450 atau sekitar 7%. Kemudian Dexlite (CN 51) mayoritas turun sebesar Rp3.350 atau sekitar 14%. Adapun Pertamax Dex (CN 53) mayoritas turun sebesar Rp3.700 atau sekitar 15%. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi