Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Harga BBM Turun, Inflasi Transportasi Masih Bebani Rumah Tangga
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% pada Juli 2026, berkat penurunan harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan melimpahnya pasokan komoditas hortikultura. Namun, inflasi pada kelompok transportasi masih mencapai 0,52%, menunjukkan bahwa biaya mobilitas masyarakat belum menurun seiring dengan penurunan harga energi. Meskipun secara umum inflasi mengalami penurunan, tekanan pada pengeluaran rumah tangga tetap ada, terutama dari biaya transportasi dan beberapa kebutuhan lain yang masih mengalami kenaikan harga.
Petugas SPBU menuang BBM jenis Pertamax ke tangki kendaraan pelanggan. (Foto: PT Pertamina Patra Niaga)
JAKARTA, AFU.ID — Data inflasi Juli 2026 menjadi fenomena menarik di tengah upaya Pemerintah Republik Indonesia (RI) menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Juli 2026. Hanya saja, biaya transportasi yang masih tinggi menunjukkan manfaat penurunan harga belum merata bagi setiap masyarakat.
Penurunan harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada awal Juli 2026 ikut berkontribusi menahan laju inflasi bulanan. Bersamaan dengan itu, melimpahnya pasokan komoditas hortikultura juga mendorong harga pangan turun di berbagai daerah. Kombinasi kedua faktor itu membuat tekanan inflasi bulanan lebih rendah ketimbang bulan Juni kemarin.
Meski begitu, angka deflasi pada Juli 2026 tak sepenuhnya menggambarkan berkurangnya beban pengeluaran rumah tangga. Data BPS memperlihatkan kelompok transportasi masih mengalami inflasi bulanan sebesar 0,52% dengan andil 0,06% terhadap inflasi umum. Kondisi itu mengindikasikan ongkos mobilitas masyarakat belum ikut menurun secepat harga sejumlah komoditas pangan.
Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono, menyatakan tekanan harga pada kelompok transportasi masih berasal dari komoditas tertentu. Ia menilai, komponen harga yang diatur pemerintah tetap mencatat inflasi, sekalipun Indonesia mengalami deflasi secara keseluruhan. “Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen harga diatur pemerintah adalah bensin,” ungkapnya dalam rilis BPS yang dikutip AFU.ID, Selasa (4/8/2026).
Kondisi tersebut memperlihatkan transmisi penurunan harga energi belum sepenuhnya mengalir kepada masyarakat. Penyesuaian harga BBM belum otomatis diikuti penurunan ongkos transportasi maupun distribusi barang dan jasa. Akibatnya, pengeluaran rumah tangga masih menghadapi tekanan dari sektor yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Selain transportasi, sejumlah kebutuhan lain juga masih mencatat kenaikan harga selama Juli 2026. Biaya pendidikan, telepon seluler, pelumas mesin, dan beberapa jasa lainnya masih menjadi penyumbang inflasi komponen inti. Pergerakan itu menunjukkan tekanan biaya hidup belum sepenuhnya mereda, walaupun inflasi umum berubah menjadi deflasi.
Deflasi Juli 2026 Tidak Sepenuhnya Mengurangi Tekanan Biaya Transportasi Rumah Tangga
Membaca angka deflasi Juli 2026 tanpa melihat inflasi tahunan berpotensi menghasilkan kesimpulan yang kurang utuh. Secara tahunan, Indonesia masih mencatat inflasi sebesar 2,88% atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Artinya, harga berbagai kebutuhan masyarakat tetap berada pada level lebih tinggi ketimbang Juli 2025.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua secara tahunan setelah makanan, minuman, dan tembakau. BPS mencatat, inflasi transportasi mencapai 5,12% dengan andil sebesar 0,62% terhadap inflasi nasional. Angka itu memperlihatkan biaya mobilitas masih menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap pengeluaran masyarakat.
Sarpono menyampaikan, tekanan inflasi tahunan kelompok transportasi berasal dari lebih dari satu komoditas. Selain bensin, kenaikan tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan mobil ikut memberikan andil terhadap inflasi sepanjang Juli 2026. “Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada Juli 2026 adalah bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga,” tuturnya.
Oleh karenanya, deflasi Juli 2026 seharusnya tak hanya kita pandang sebagai indikator keberhasilan pengendalian harga. Pemerintah RI juga perlu memastikan penurunan harga energi benar-benar diterjemahkan menjadi ongkos transportasi yang lebih rendah agar manfaatnya dirasakan langsung masyarakat. Tanpa perbaikan mekanisme itu, ruang belanja rumah tangga tetap berpotensi tertekan di saat inflasi bulanan berhasil terkendali.
Sebagai informasi, BPS melaporkan bahwa PT Pertamina Patra Niaga telah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 1 Juli 2026. Pertamax Turbo (RON 98) mayoritas turun sebesar Rp1.450 atau sekitar 7%. Kemudian Dexlite (CN 51) mayoritas turun sebesar Rp3.350 atau sekitar 14%. Adapun Pertamax Dex (CN 53) mayoritas turun sebesar Rp3.700 atau sekitar 15%. (ADR)