Analisis Dampak
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di wilayah pedesaan Indonesia.
Ketika nilai ekspornya anjlok lebih dari seperempat (-26,27%), dampak langsungnya akan langsung memukul pendapatan riil jutaan petani di daerah.
Penurunan ekspor kopi menunjukkan adanya masalah struktural di tingkat hulu, entah karena kegagalan mitigasi perubahan iklim, mahalnya biaya logistik, atau kurangnya insentif bagi petani.
Jika terus dibiarkan, masalah tersebut akan memperlebar angka kemiskinan di desa dan memicu gelombang urbanisasi yang tak terkendali.
Sebaliknya, pertumbuhan ekspor nikel yang mencapai 63,99% adalah industri yang bersifat padat modal (capital-intensive) dan padat teknologi, bukan padat karya (labor-intensive).
Artinya, perputaran uang yang besar pada sektor tersebut hanya dinikmati oleh segelintir korporasi besar dan investor asing.
Bahkan, tanpa memberikan efek rembesan (trickle-down effect) yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dalam skala masif.
Jebakan Ilusi Angka Makro
Redaksi AFU.ID menilai kondisi tersebut sebagai peringatan keras bagi arah kebijakan ekonomi nasional.
Pemerintah Republik Indonesia (RI) tampaknya mengalami ‘rabun dekat’ karena terlalu fokus memanjakan sektor pertambangan dan hilirisasi mineral demi mengejar pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) makro.
Ada tiga catatan kritis yang harus digarisbawahi dari data perdagangan tersebut:
1. Ekonomi yang Rapuh:
Indonesia sedang mempertaruhkan ketahanan ekonominya pada komoditas tambang yang harganya sangat bergantung terhadap dinamika pasar global dan kebijakan satu negara pembeli (dalam hal ini, Tiongkok).
Oleh karenanya, industri ekstraktif tersebut mempunyai sifat yang unsustainable alias tidak berkelanjutan.
2. Pengabaian Kedaulatan Pangan:
Dengan membiarkan ekspor sektor pertanian layu sebelum berkembang, pemerintah secara tidak langsung melemahkan fondasi kedaulatan pangan nasional.
Lahan-lahan produktif kini lebih banyak yang beralih fungsi menjadi kawasan industri atau pertambangan, alih-alih dioptimalkan untuk penguatan teknologi pertanian.
3. Ilusi Pertumbuhan:
Angka ekspor nasional yang terlihat sehat hanyalah sebuah ilusi apabila penopang pertumbuhan tersebut berasal dari sektor yang tak menyentuh hajat hidup orang banyak.
Selama sektor pertanian terus dianaktirikan, maka jurang ketimpangan kaya-miskin (gini ratio) di Indonesia diproyeksikan akan semakin melebar.
Sudah saatnya Pemerintah RI melakukan rebalancing (penyesuaian kembali) terhadap sejumlah kebijakannya.
Hilirisasi nikel memang membawa devisa, tapi menyelamatkan sektor pertanian dan nasib para petani kopi adalah tentang menyelamatkan perut dan masa depan mayoritas rakyat Indonesia. (ADR)






























