JAKARTA - AFU.ID, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (18/5/2026). Kunjungan ini menyusul penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dua hari berturut-turut.
Hari ini, menjelang akhir sesi, penurunan IHSG merosot tajam 3,l3bih% atau -200 poin ke level 6.398,78.
Sebanyak 569 saham turun, 134 naik, dan 110 stagnan. Nilai transaksi terbilang ramai, yakni mencapai Rp 13,85 triliun, melibatkan 24,77 miliar saham, dalam 1,6 juta kali transaksi.
Sebagai upaya pemulihan level IHSG, Dasco mengaku telah berdiskusi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Danantara, hingga jajaran direksi BEI terkait upaya memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
"Kami tadi sudah banyak berdiskusi bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa dan sekarang di bursa," ujar Dasco di Gedung BEI, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Selain itu, pembahasan juga difokuskan untuk menumbuhkan investor ritel domestik yang dinilai terus meningkat. BEI tengah menyempurnakan berbagai regulasi guna meningkatkan kenyamanan dan keyakinan investor lokal untuk tetap berinvestasi di pasar modal Indonesia.
"Tadi kami mendengarkan paparan dari direktur bursa, bagaimana mereka kemudian menyempurnakan regulasi-regulasi yang bisa meyakinkan dan juga membuat para investor lokal merasa nyaman," katanya.
Dasco menilai pertumbuhan investor domestik menjadi modal penting bagi penguatan pasar saham Indonesia ke depan. Ia optimistis fundamental pasar modal Indonesia masih cukup kuat di tengah gejolak global.
"Fundamental yang ada kita yakin dan percaya bahwa bursa kita ke depan akan semakin kuat," ujarnya.
Dasco juga menyinggung harapan pasar terhadap perkembangan setelah tanggal 29 Mei mendatang, tanpa menjelaskan lebih rinci agenda yang dimaksud.
"Mudah-mudahan kita akan melihat hasilnya setelah tanggal 29 ini," kata Dasco.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penyesuaian konsituen di Indeks Global Standard dan Indeks Small Cap MSCI berlaku efektif pada 29 Mei 2026.
Dasco pun mengapresiasi langkah dan kerja keras BEI serta OJK dalam menghadapi tekanan pasar yang dipengaruhi sentimen global maupun dinamika domestik.
"Terima kasih atas kerja keras dari Direksi Bursa maupun OJK yang beberapa hari ini telah bersusah payah menghadapi situasi yang disebabkan oleh pasar global maupun dinamika di dalam negeri," tuturnya.
Rebalancing MSCI Berlaku Efektif 29 Mei
Rebalancing MSCI Mei 2026 efektif setelah penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Artinya, sebelum penilaian itu berlaku efektif, pemerintah perlu melakukan intervensi untuk menyelamatkan pasar saham di Indonesia.
CGS International Sekuritas memperkirakan akan ada uang keluar atau outflow passive funds sekitar US$1,8 miliar, setara Rp31–31,5 triliun akibat penjualan saham besar-besaran. Tekanan jual paling kuat mendekati tanggal efektif 29 Mei 2026.
Saat ini, emiten AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT, dan lainnya telah mengalami pelemahan sejak pengumuman MSCI pada 13 Mei kemarin. Emiten-emiten ini diprediksi masih volatile hingga akhir Mei.
Meski begitu, setelah tekanan ini selesai, beberapa analis melihat peluang rebound karena “priced in”.
Analis Fath melihat ini sebagai “short-term pain, long-term gain” karena mendorong perbaikan transparansi dan free float di pasar Indonesia. Saham yang tetap di indeks (stay) berpotensi memimpin pemulihan.
Tetapi ada konsekuensinya, sejumlah emiten mengalami penurunan nilai signifikan. Meski begitu, OJK dan BEI optimistis langkah MSCI ini mendorong reformasi, sehingga Indonesia bisa menghindari risiko downgrade lebih lanjut.
Risiko lebih besar jika isu transparansi ditangani secara lambat. Dikhawatirkan, MSCI malah justru bisa menurunkan bobot Indonesia di Emerging Markets di review berikutnya, yaitu pada Agustus 2026 mendatang. (EER)