Pulau Jawa Masih Favorit
Dari laporan terbaru BPS, Pulau Jawa masih menjadi daerah tujuan utama perjalanan wisnus sepanjang April 2026.
“Jumlahnya mencapai 63,47 juta perjalanan atau sebesar 65,07 persen dari total perjalanan wisnus di Indonesia,” tutur Harmawanti Marhaeni.
Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama dengan 17,40 juta perjalanan wisnus, kemudian Jawa Timur (15,40 juta), dan Jawa Tengah (13,22 juta).
“Provinsi lain dengan tujuan perjalanan wisata yang juga cukup tinggi adalah DKI Jakarta, Banten, Sumatra Utara, Di Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan,” ujar Harmawanti Marhaeni.
Akan tetapi, rontoknya pergerakan wisnus yang melebih 20% secara bulanan maupun tahunan, sangat berpotensi menimbulkan efek negatif.
Belum lagi tujuan utama wisatawan domestik yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
“Penurunan terdalam tercatat di Provinsi Lampung sebesar 36,44 persen, diikuti Jawa Tengah 33,91 persen dan Sumatra Barat 32,52 persen,” papar Harmawanti Marhaeni.
Salah satu dampak buruk dari fenomena tersebut adalah pukulan terhadap sektor ekonomi, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai destinasi wisata daerah.
Ketika 37 provinsi mengalami penurunan arus wisatawan secara bersamaan, rantai pasok ekonomi lokal—seperti tingkat okupansi penginapan nonbintang, perputaran uang di pusat oleh-oleh, hingga jasa transportasi lokal—akan mengalami kekeringan likuiditas akibat sepinya pembeli.
Ketergantungan pariwisata domestik yang terlalu akut terhadap musim liburan (seasonal dependency) memperlihatkan rapuhnya strategi pariwisata yang gagal menciptakan daya tarik konsisten di luar hari raya besar.
Faktor lain yang memengaruhi penurunan mobilitas wisnus adalah inflasi kelompok transportasi nasional yang naik sebesar 0,61% secara bulanan.
Pemicu dari kenaikan harga tersebut adalah tingginya tarif angkutan udara dan penyesuaian harga bahan bakar.
Kombinasi antara hilangnya momentum libur raya dan mahalnya biaya transportasi diprediksi akan memperpanjang kelesuan pariwisata domestik pada bulan-bulan berikutnya. (ADR)





























