AFU.id

Arus Wisatawan Domestik Anjlok, Ekonomi Lokal Daerah Luar Jawa Terpukul

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Kemunduran melanda sektor pariwisata nasional pada April 2026, lantaran anjloknya jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus).Perkembangan jumlah perjalanan wisnus memang naik sepanjang Januari-April 2026, yakni sebesar 417,06 juta.Angka tersebut naik 1,48% ketimbang periode yang sama tahun lalu (Januari-April 2025) yang mencatatkan total 410,99 juta perjalanan.Akan tetapi, jika menelaah lebih dalam total perubahan secara bulanan (month-to-month/M-to-M) dan tahunan (year-on-year/Y-on-Y), angka pertumbuhan 1,48% di atas seolah tak ada artinya.

Arus Wisatawan Domestik Anjlok, Ekonomi Lokal Daerah Luar Jawa Terpukul
Ilustrasi perjalanan wisnus yang menurun drastis membuat destinasi wisata dan ekonomi lokal di daerah luar Pulau Jawa sangat terdampak. (Foto: Gemini AI)

Pulau Jawa Masih Favorit

Dari laporan terbaru BPS, Pulau Jawa masih menjadi daerah tujuan utama perjalanan wisnus sepanjang April 2026.

“Jumlahnya mencapai 63,47 juta perjalanan atau sebesar 65,07 persen dari total perjalanan wisnus di Indonesia,” tutur Harmawanti Marhaeni.

Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama dengan 17,40 juta perjalanan wisnus, kemudian Jawa Timur (15,40 juta), dan Jawa Tengah (13,22 juta).

“Provinsi lain dengan tujuan perjalanan wisata yang juga cukup tinggi adalah DKI Jakarta, Banten, Sumatra Utara, Di Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan,” ujar Harmawanti Marhaeni.

Akan tetapi, rontoknya pergerakan wisnus yang melebih 20% secara bulanan maupun tahunan, sangat berpotensi menimbulkan efek negatif.

Belum lagi tujuan utama wisatawan domestik yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

“Penurunan terdalam tercatat di Provinsi Lampung sebesar 36,44 persen, diikuti Jawa Tengah 33,91 persen dan Sumatra Barat 32,52 persen,” papar Harmawanti Marhaeni.

Salah satu dampak buruk dari fenomena tersebut adalah pukulan terhadap sektor ekonomi, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai destinasi wisata daerah.

Ketika 37 provinsi mengalami penurunan arus wisatawan secara bersamaan, rantai pasok ekonomi lokal—seperti tingkat okupansi penginapan nonbintang, perputaran uang di pusat oleh-oleh, hingga jasa transportasi lokal—akan mengalami kekeringan likuiditas akibat sepinya pembeli.

Ketergantungan pariwisata domestik yang terlalu akut terhadap musim liburan (seasonal dependency) memperlihatkan rapuhnya strategi pariwisata yang gagal menciptakan daya tarik konsisten di luar hari raya besar.

Faktor lain yang memengaruhi penurunan mobilitas wisnus adalah inflasi kelompok transportasi nasional yang naik sebesar 0,61% secara bulanan.

Pemicu dari kenaikan harga tersebut adalah tingginya tarif angkutan udara dan penyesuaian harga bahan bakar.

Kombinasi antara hilangnya momentum libur raya dan mahalnya biaya transportasi diprediksi akan memperpanjang kelesuan pariwisata domestik pada bulan-bulan berikutnya. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi