JAKARTA, AFU.ID - Nada bicara Muhammad Qodari kali ini tak menyisakan ruang abu-abu. Di Auditorium Bakom, Jakarta, ia seperti sedang menekan pedal gas komunikasi pemerintah—lebih kencang, lebih frontal, dan siap beradu narasi di ruang publik yang makin riuh.
Sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Qodari memastikan satu hal: era komunikasi pasif sudah lewat. Pemerintah, katanya, tak lagi berdiri sebagai penonton saat kritik datang bertubi-tubi, terutama di media sosial yang kini menjadi arena utama pertarungan opini.
Ia bahkan menanggapi langsung label “penyerang” yang disematkan pengamat atas dirinya dan Hasan Nasbi. Alih-alih menepis, Qodari justru mengafirmasi dengan gaya khas—setengah retoris, setengah menantang. Baginya, komunikasi bukan sekadar klarifikasi, tapi juga perlawanan terhadap narasi yang dianggap timpang.
“Diserang terus, masa tidak dijawab?” kira-kira begitu garis besarnya. Dalam logika Qodari, diam bukan lagi strategi. Diam justru membuka ruang dominasi sepihak di tengah arus informasi yang bergerak cepat dan seringkali liar.
Ia menilai lanskap komunikasi hari ini berbeda jauh dibanding satu dekade lalu. Media sosial telah mengubah segalanya—cepat, bising, dan sering tanpa filter. Di ruang seperti itu, pemerintah dituntut bukan hanya hadir, tapi juga sigap dan tegas. Bukan sekadar proaktif, melainkan agresif.
Namun agresif versi Qodari bukan tanpa arah. Ia menyebutnya sebagai upaya menjaga keseimbangan informasi. “Your words against my words,” ujarnya, seolah menegaskan bahwa ruang publik adalah arena terbuka—tempat argumen saling berhadapan, bukan saling menghindar.
Di balik sikap itu, ada keyakinan yang ia pegang: publik tidak sebodoh yang sering diasumsikan. Rasionalitas masyarakat, menurutnya, akan bekerja sendiri dalam menilai mana program yang benar-benar berdampak.
Dengan Prabowo Subianto sebagai nahkoda pemerintahan, Qodari percaya dukungan publik akan tetap mengalir, selama kebijakan yang diambil terasa nyata manfaatnya. Meski begitu, ia sadar, dukungan itu tidak datang tanpa pertarungan narasi.
Kini, Bakom di bawah Qodari tampaknya tak lagi sekadar corong. Ia berubah menjadi pemain aktif—bahkan petarung—di medan komunikasi yang keras. Pertanyaannya tinggal satu: apakah strategi agresif ini akan memperkuat kepercayaan, atau justru memperpanjang riuh di ruang publik? (*)