JAKARTA, AFU.ID - Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81 berlangsung ketika Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) nasional berada di level tertinggi sejak pengukuran dimulai pada 2015. Indeks tersebut mencapai 77,89 pada 2025, naik dari 76,47 setahun sebelumnya. Namun, di balik capaian tersebut, dimensi kebersamaan antarumat beragama masih mencatat skor 65,49, jauh di bawah toleransi yang mencapai 88,82.
Data Kementerian Agama menunjukkan tiga indikator utama penyusun indeks memiliki capaian yang berbeda. Toleransi menjadi yang tertinggi dengan skor 88,82, diikuti kesetaraan 79,35, sedangkan kebersamaan berada pada 65,49. Kemenag menilai dimensi kebersamaan masih perlu diperkuat, terutama menyangkut partisipasi lintas komunitas dalam kehidupan sosial.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengangkat persoalan kerukunan tersebut ketika memimpin upacara HUT ke-81 RI di halaman Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Menurutnya, keberagaman hanya dapat menjadi kekuatan apabila masyarakat mampu menjaga hubungan antarkelompok di tengah perbedaan agama dan latar belakang. “Indonesia besar karena keberagaman. Karenanya, kerukunan jadi modal dasar pembangunan. Tanpa kerukunan, bangsa ini sulit bertumbuh dan maju,” kata Nasaruddin, Senin (17/8/2026).
Indeks 77,89 menjadi angka tertinggi dalam 11 tahun terakhir, setelah mengalami naik-turun sejak 2015. IKUB tercatat 75,36 pada 2015, kemudian sempat turun hingga 67,46 pada 2020 sebelum kembali meningkat menjadi 72,39 pada 2021, 76,02 pada 2023, dan 76,47 pada 2024. Survei 2025 dilakukan Kementerian Agama bersama Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Universitas Indonesia terhadap 13.836 responden dengan metode wawancara tatap muka.
Perbedaan antara skor toleransi dan kebersamaan menunjukkan tingginya penerimaan terhadap pemeluk agama lain belum diikuti capaian yang sama dalam keterlibatan sosial lintas kelompok. Dalam pengukuran Kemenag, toleransi berkaitan dengan penerimaan dan penghormatan terhadap orang yang berbeda keyakinan, sementara kebersamaan menyangkut keterlibatan umat dalam membangun kehidupan sosial bersama. Kemenag menyebut partisipasi lintas komunitas menjadi aspek yang masih membutuhkan penguatan.
Selain kerukunan, Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025 mencapai 84,61 dan masuk kategori sangat tinggi. Dimensi individual mencatat skor 87,21, sedangkan dimensi sosial berada di angka 82,00 yang mencakup solidaritas, relasi antarmanusia, etika publik, kepedulian lingkungan hingga etika digital. Kementerian Agama menegaskan kesalehan tidak hanya diukur melalui praktik ritual, tetapi juga dari dampaknya dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.
Momentum Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini juga berlangsung di tengah penanganan bencana gempa di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah. Nasaruddin mengajak umat beragama menerjemahkan nilai keagamaan menjadi solidaritas nyata dengan membantu masyarakat terdampak. “Mari kita ulurkan tangan untuk peduli dan membantu korban gempa. Inilah agama yang hadir, yang tidak hanya bicara tentang langit, tetapi juga bekerja untuk bumi,” ujarnya.
Menurut Nasaruddin, nilai agama juga dapat diterjemahkan melalui penguatan filantropi untuk membantu masyarakat sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi. Ia meminta rumah ibadah dan ruang keagamaan menjadi tempat yang memberikan ketenteraman, bukan menjadi sumber pertentangan. “Jangan biarkan perbedaan jadi alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama jadi alasan saling menjauh,” katanya.
Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81 dengan demikian berlangsung saat indikator kerukunan nasional berada pada posisi tertinggi dalam lebih dari satu dekade, tetapi belum seluruh dimensinya memiliki kekuatan yang sama. Toleransi telah menjadi penopang terbesar dengan skor mendekati 89, sementara kebersamaan masih tertinggal lebih dari 23 poin. Data tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan berikutnya tidak hanya menjaga masyarakat saling menerima perbedaan, tetapi memperluas interaksi dan kerja bersama lintas komunitas. (RHU)