JAKARTA, AFU.ID — PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menutup 119 perlintasan sebidang sebagai bagian dari upaya nasional peningkatan keselamatan perjalanan kereta api. Di saat yang sama, KAI juga masih menangani 490 perlintasan liar yang tersebar di berbagai wilayah operasi.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi titik rawan kecelakaan di jalur rel dan jalan raya. Penanganan dilakukan bersama pemerintah pusat, daerah, hingga aparat kewilayahan.
Dari total 172 perlintasan sebidang prioritas yang menjadi target tahun ini, sekitar 119 titik telah ditutup. Capaian tersebut setara dengan 69 persen realisasi program penanganan perlintasan. Selain penutupan, KAI juga mulai memperkuat fasilitas keselamatan di 1.148 lokasi aktif.
Anne menegaskan bahwa seluruh perlintasan yang ditutup telah melalui proses kajian keselamatan yang ketat. Fokus utama program ini adalah menekan potensi kecelakaan yang terus terjadi. Data KAI mencatat sepanjang Januari hingga 4 Juni 2026 terjadi 119 kecelakaan di perlintasan sebidang.
Peristiwa tersebut menyebabkan 97 korban jiwa dan luka-luka. Korban terdiri atas 43 orang meninggal dunia, 23 luka berat, dan 31 luka ringan. Angka tersebut menunjukkan masih tingginya risiko keselamatan di perlintasan sebidang.
Sebanyak 52 persen kecelakaan terjadi di perlintasan tanpa palang pintu. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama tingginya angka insiden. KAI juga mencatat bahwa 87 persen kecelakaan dipicu perilaku pengendara yang menerobos saat kereta melintas. Faktor human error masih mendominasi kejadian di lapangan.
Menurut Anne, satu perlintasan sebidang mungkin hanya dilalui dalam hitungan detik. Namun titik tersebut menjadi ruang krusial pertemuan antara kereta api dan pengguna jalan. “Karena itu, keselamatan merupakan investasi sosial yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang,” kata Anne, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, program penutupan perlintasan juga melibatkan berbagai pihak termasuk komunitas dan masyarakat sekitar. Kolaborasi ini dinilai penting untuk mempercepat pengurangan titik risiko. KAI telah melaporkan perkembangan penanganan perlintasan sebidang kepada Presiden Prabowo Subianto. Hal itu menjadi bagian dari percepatan agenda keselamatan transportasi nasional.
Selain penutupan, KAI juga gencar melakukan sosialisasi keselamatan di berbagai daerah. Edukasi dilakukan melalui sekolah, rumah ibadah, hingga komunitas sekitar jalur rel. Sepanjang 2022 hingga 2025, KAI telah melaksanakan ribuan kegiatan sosialisasi keselamatan. Upaya ini mencakup penutupan perlintasan liar, pemasangan rambu, hingga edukasi publik.
KAI menargetkan penyelesaian 53 titik perlintasan prioritas yang masih tersisa. Target penutupan 172 titik pada 2026 diharapkan dapat tercapai sesuai rencana. (ANT/RAI)