AFU.ID, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bauran Nature-based Solutions (NbS) sebagai pendekatan mitigasi gelombang laut ekstrim dan tsunami di kawasan Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA).
Pendekatan ini diarahkan untuk merancang sistem perlindungan pantai yang tidak hanya efektif dalam meredam energi gelombang, tetapi juga berkelanjutan serta selaras dengan dinamika alam dan ekosistem pesisir.
Hal tersebut disampaikan Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Khusnul Setia Wardani di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Jacob Salatun, Rumpin, Bogor pada Senin, 9 Februari 2026.
Ia menjelaskan kawasan pesisir Indonesia semakin rentan terhadap gelombang laut ekstrim akibat perubahan iklim dan kenaikan muka air laut.
Di pesisir selatan Jawa, risiko tersebut diperparah oleh zona megathrust yang berpotensi memicu tsunami, sehingga menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan infrastruktur vital di wilayah pesisir.
“Bandara Internasional Yogyakarta merupakan salah satu infrastruktur strategis yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap ancaman gelombang laut ekstrem,” ungkapnya.
“Bandara ini dibangun di pesisir selatan Jawa dan berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng aktif, sehingga berpotensi terdampak gelombang ekstrim maupun tsunami akibat aktivitas tektonik,” sambungnya.
Khusnul mengutarakan bahwa kawasan bandara berada di antara Sungai Serang di sisi timur dan Sungai Bogowonto di sisi barat, dengan gumuk pasir sebagai pelindung alami pantai.
Namun, pembangunan pemecah gelombang di sisi timur dan double jetty di sisi barat telah mengubah pola alami pergerakan sedimen di sepanjang garis pantai.
“Perubahan tersebut menyebabkan ketidakseimbangan sistem transpor sedimen, sehingga pasir menumpuk di satu sisi bangunan pantai dan mengakibatkan kekurangan sedimen di kawasan pantai selatan bandara,” tuturnya.
“Pada kondisi tertentu, pergerakan sedimen sepanjang sekitar 5,5 kilometer memicu erosi dan sedimentasi yang cukup parah di sepanjang garis pantai,” tambahnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan bauran NbS sebagai pendekatan mitigasi gelombang laut ekstrim dan tsunami di kawasan YIA.
Khusnul menyebut, perlindungan kawasan YIA memerlukan pendekatan terpadu dan berlapis (multi-layer defense) yang mengombinasikan struktur keras, seperti groin dan tanggul laut, dengan elemen alam, antara lain gumuk pasir, vegetasi pantai, sand nourishment, dan terumbu karang.
“Di zona laut, groin dibangun menjorok ke arah laut untuk mengendalikan arus sejajar pantai dan pergerakan sedimen sehingga mengurangi abrasi dan melemahkan energi gelombang,” ujarnya.
“Sementara itu, pantai berpasir di darat berperan sebagai peredam alami awal energi gelombang ekstrem,” lanjutnya.
Vegetasi pantai menjadi elemen penting dalam pendekatan NbS. BRIN merekomendasikan penanaman kombinasi cemara udang (Casuarina equisetifolia L.) dan pandan laut (Pandanus tectorius) sebagai sabuk hijau pesisir yang berfungsi memperlambat aliran air, menahan sedimen, serta meredam sisa energi gelombang dan limpasan air laut ke daratan.
“Sisi selatan Bandara Internasional Yogyakarta merupakan kawasan Pakualaman Ground yang dimanfaatkan untuk pariwisata dan pertanian masyarakat,” paparnya.
“Kondisi ini menjadikan pemilihan vegetasi pengaman pantai sangat krusial, terutama jenis yang dapat dikombinasikan dengan tanaman pangan serta aman bagi operasional bandara karena tidak menarik burung,” imbuhnya.
Hasil koordinasi dengan instansi terkait di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan cemara udang dan pandan laut dinilai sesuai untuk kawasan tersebut.
Ke depan, perlindungan bandara diharapkan diperkuat melalui pembangunan tanggul di belakang zona vegetasi sebagai struktur hibrida pelindung terakhir, yang juga dapat dirancang multifungsi sebagai jalan guna meningkatkan efisiensi ruang dan konektivitas wilayah.
“Melalui riset ini, penerapan NBS diharapkan dapat menjadi solusi mitigasi bencana pesisir yang melindungi infrastruktur bandara, memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, serta menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,” pungkasnya.