JAKARTA, AFU.ID — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada hari kedua eskalasi konflik. Situasi ini sekaligus memperkecil peluang tercapainya perdamaian setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir.
Menurut sejumlah pejabat AS, keputusan Washington melancarkan serangan terbaru dipicu belum dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Pemerintah AS juga menuduh Iran masih menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut, termasuk ketika Trump menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO.
Sebagai balasan, militer AS menggempur lebih dari 80 target militer Iran yang meliputi sistem pertahanan udara, radar pesisir, pusat komando, fasilitas rudal anti-kapal, hingga puluhan kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Bushehr, Bandar Abbas, dan Sirik. Serangan tersebut menewaskan 14 warga Iran.
Trump menegaskan dirinya tidak lagi menganggap kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. "Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir," ujar Trump saat menghadiri KTT NATO. "Hanya membuang waktu berurusan dengan mereka," lanjutnya, dikutip AFP, Rabu (8/7/2026). Sebelumnya, ia juga memperingatkan bahwa serangan AS akan jauh lebih besar apabila Iran kembali mengganggu pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan operasi gabungan rudal dan drone yang menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan sasaran serangan meliputi Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait, serta Pangkalan Udara Shaikh Isa dan Naval Support Activity di Juffair, Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. IRGC menyebut operasi itu merupakan respons atas serangan AS terhadap sejumlah wilayah pesisir Iran, termasuk serangan terhadap jembatan kereta api di Aqqala.
Hingga kini Komando Pusat AS (CENTCOM) belum memberikan tanggapan mengenai tuduhan tersebut. Di tengah memanasnya konflik, otoritas Bahrain dan Kuwait mengaktifkan sirene peringatan serangan serta sistem pertahanan udara sebagai langkah antisipasi. IRGC juga memperingatkan akan memperluas serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS lainnya di Timur Tengah apabila Washington kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran. (RAI)