JAKARTA, AFU.ID — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim sebuah tanker minyak meledak dan terbakar ketika mencoba melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz, Kamis, 23 Juli 2026. Kapal tersebut merupakan satu dari tiga tanker yang disebut IRGC mendapat dukungan Amerika Serikat untuk melewati jalur itu. Dua tanker lainnya langsung berbalik arah setelah melihat ledakan. Identitas kapal, kondisi awak, serta kerusakan yang ditimbulkan belum diumumkan.
IRGC menyatakan tidak ada tanker yang diizinkan masuk maupun keluar dari Selat Hormuz tanpa berkoordinasi dengan Iran. Militer Iran memperingatkan kapal lain akan menghadapi nasib serupa apabila tetap mencoba melintas melalui rute tersebut. Sehari sebelumnya, juru bicara IRGC Hossein Mohebbi mengumumkan jalur selatan Selat Hormuz telah dipasangi ranjau. Iran mengklaim jalur pelayaran strategis itu berada dalam kendalinya dan telah ditutup sepenuhnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons ancaman terhadap pelayaran dengan menjanjikan serangan balasan terhadap infrastruktur Iran. Trump mengatakan Amerika akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik setiap kali Iran menyerang kapal di Selat Hormuz. Ancaman itu mencakup fasilitas yang berada di sekitar maupun di dalam Teheran. Sejumlah pakar hukum internasional mengkritik ancaman terhadap infrastruktur sipil tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak dunia karena jalur itu menjadi salah satu titik pengiriman energi terpenting dunia. Harga minyak Brent naik menjadi sekitar 96,27 dolar AS per barel dalam perdagangan Asia, Kamis. Minyak West Texas Intermediate juga meningkat menjadi sekitar 88,48 dolar AS per barel. Pelaku pasar mengkhawatirkan gangguan berkepanjangan terhadap pelayaran dan pasokan minyak dari kawasan Teluk. (RHU)