Jakarta, AFU.ID - Seorang relawan kemanusiaan Palestina yang mengorganisir nonton bareng atau nobar pertandingan Piala Dunia di Gaza tewas dalam serangan rudal Israel, Selasa (7/7) malam. Kejadian itu hanya selisih satu jam sebelum pertandingan antara Mesir melawan Argentina dimulai.
Relawan kemanusiaan bernama Mohamed al-Wahidi (57) merupakan direktur Komite Mesir di Gaza. Ia tewas dihantam rudal Israel di distrik Sabra, Kota Gaza, Palestina. Serangan itu juga menewaskan dua bocah bersaudara, Fari (8) dan Hamza al-Deri (10), serta seorang pria berusia 30 tahun, Ahmed Daghmush, juga dilaporkan tewas.
Saksi mata mengatakan al-Wahidi sedang dalam perjalanan menuju lokasi pemutaran pertandingan di Tel al-Hawa, Gaza selatan, ketika serangan terjadi sekitar satu jam sebelum pertandingan dimulai . Sopir taksi dilaporkan selamat dalam insiden tersebut .
Militer Israel (IDF) mengeklaim bahwa al-Wahidi bukanlah target yang dimaksudkan dalam serangan itu. Seorang juru bicara IDF mengatakan serangan tersebut diarahkan pada "seorang teroris di sayap militer Hamas" yang berada di dalam kendaraan di Jalur Gaza utara .
"IDF mengetahui adanya klaim bahwa warga sipil yang tidak terlibat terluka akibat serangan tersebut. Insiden ini sedang ditinjau," demikian pernyataan IDF, seraya menambahkan bahwa mereka menyesali setiap kerugian yang dialami pihak yang tidak terlibat . Pihak militer belum mengonfirmasi apakah target yang dimaksud berhasil dilumpuhkan .
Al-Wahidi telah lama terlibat dalam proyek pembangunan dan bantuan kemanusiaan di wilayah Palestina . Saat gelaran Piala Dunia bergulir, dirinya menginisiasi nobar pertandingan di berbagai tempat di Gaza untuk menjadi hiburan di tengah hidup yang sengsara. Dia ingin membagikan kemeriahan ajang sepak bola empat tahunan itu di tengah reruntuhan gedung yang porak-poranda.
Sepupu al-Wahidi, Abd Alkhaleq, mengatakan almarhum adalah sosok yang dicintai dan dikenal karena kemampuannya berbicara di depan umum, serta selalu membantu keluarga yang membutuhkan . Korban lainnya, Ahmed Daghmush, digambarkan oleh sepupunya sebagai pemuda yang baik hati dan pekerja keras.
Meskipun gencatan senjata telah diumumkan pada Oktober lalu, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas akibat aksi militer Israel, dan ribuan lainnya terluka . Situasi kemanusiaan di Gaza tetap memprihatinkan dengan lebih dari 60% wilayah masih diduduki langsung oleh tentara Israel, dan infrastruktur publik serta layanan kesehatan dan pendidikan masih hancur.
Serangan Israel Terjadi Setelah Hamas Mundur dari Gaza
Serangan rudal Israel yang menewaskan pekerja kemanusiaan Mohamed al-Wahidi pada Selasa malam terjadi sehari setelah Hamas secara resmi mengumumkan pembubaran pemerintahan daruratnya di Gaza, Senin (6/7) . Langkah ini diambil sebagai bagian dari proses penyerahan kendali jalur pantai kepada Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG), sebuah badan teknokrat Palestina yang didukung oleh Amerika Serikat .
Pengumuman ini sekaligus menandai berakhirnya kendali administratif Hamas di Gaza, kelompok yang telah memerintah wilayah itu sejak tahun 2007. Komite Darurat Pemerintahan dibubarkan, wewenang dialihkan ke NCAG, dan sekitar 60.000 pegawai pemerintah tetap dipertahankan untuk mencegah kekosongan administrasi.
Fakta ini secara langsung menggugurkan klaim Israel bahwa serangan yang menewaskan Mohammed a-Wahidi bukan salah sasaran, karena Israel sendiri kerap menggunakan alasan bahwa setiap serangan di Gaza menargetkan "teroris di sayap militer Hamas" yang dianggap mengancam keamanan Israel.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan langkah pembubaran tersebut diambil "untuk menghilangkan berbagai dalih yang digunakan penjajah, yang terus melanjutkan tuduhan, agresi dan perang pemusnahan". Namun, di sisi lain, juru bicara militer Israel (IDF) menyatakan bahwa serangan Selasa malam tersebut tidak menargetkan al-Wahidi, melainkan "seorang teroris di sayap militer Hamas."
"IDF menyadari adanya klaim bahwa warga sipil yang tidak terlibat terluka akibat serangan tersebut. Insiden ini sedang ditinjau," demikian pernyataan resmi IDF, seraya menambahkan bahwa mereka menyesali setiap kerugian yang dialami pihak yang tidak terlibat.
Namun, pernyataan tersebut tidak menjawab pertanyaan tentang relevansi target di tengah perubahan lanskap politik Gaza. Jika target militer adalah anggota sayap bersenjata Hamas, apakah mundurnya Hamas dari pemerintahan mengubah status mereka? Israel selama ini bersikukuh bahwa serangan militernya ditujukan terhadap individu-individu tertentu berdasarkan intelijen, bukan terhadap struktur pemerintahan secara keseluruhan.
Mundurnya Hamas dari struktur pemerintahan yang diumumkan sehari sebelumnya, memunculkan pertanyaan baru: sejauh mana operasi militer Israel masih terikat pada justifikasi yang mereka klaim, dan apakah dalih "memburu teroris" masih dapat dipertanggungjawabkan ketika pemerintahan yang mereka lawan secara resmi telah menyatakan pembubaran? (EER)