JAKARTA - AFU.ID - Makan malam Koresponden Gedung Putih atau White House Correspondents' Dinner 2026 digelar di hotel Washington Hilton, Washington, D.C., Sabtu malam (25/4/2026) menambah deretan panjang kasus penembakan di Amerika Serikat (AS).
Pelakunya adalah Cole Tomas Allen (31) berasal dari Torrance, California—wilayah pinggiran di barat daya Los Angeles, AS. Sekitar 10 menit sebelum melancarkan aksinya, Allen sempat mengirim manifesto ke kerabatnya.
Karena merasa khawatir dengan kondisi kejiwaan Allen, surat tersebut pun dilaporkan ke pihak kepolisian. Seperti yang ditulis New York Post, dikutip Senin (27/4/2026), dalam manifesto itu Allen berkali-kali meminta maaf.
Selanjutnya, tulisan itu menyebut aturan main dalam aksi penembakan itu seperti ada target-target tertentu yang jadi sasaran, tetapi ada juga pengecualian bagi target yang hanya ditembak jika ada perlawanan.
Dia menyebut bahwa tidak segan menembak kepada siapa saja yang menghalanginya jika diperlukan karena mereka yang hadir dalam acara itu.
“Siap melewati menyakiti semua yang hadir dalam acara tersebut karena mereka rela menghadiri acara pidato seorang pedopil, pemerkosa sekaligus penghianat. Ikut hadir berarti turut bertanggung jawab atas perbuatan yang berpidato,” tulisnya.
Pelaku melancarkan aksinya sendiri, FBI dia disebut tidak terafiliasi dengan organisasi meskipun petugas menyebut dirinya pernah mendonasikan uangnya untuk kampanye Kamala Harris.
Allen disebut sebagai ekstrimis agama karena mencantumkan narasi berbau agama dalam manifestonya itu. Kata dia, “Membalik pipi hanya untuk diri sendiri yang tertindas. Bukan untuk orang lain. Membiarkan penindasan orang lain sama dengan ikut serta dalam kejahatan.”
“Membalikkan pipi ketika seseorang sedang mendapatkan tekanan bukanlah kebiasaan seorang penganut Kristiani, itu sama dengan terlibat dalam kegiatan kriminal itu.”
Secara terang-terangan, Allen juga mengajukan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah saat ini seperti serangan AS terhadap kapal penyelundup narkoba di Venezuela, serangan salah sasaran terhadap sekolah dasar di Iran, serta isu imigrasi, penahanan oleh aparat, juga sejumlah kekerasan yang dilakukan pemerintah.
FBI menyebut bahwa, Saudara Allen yang tinggal di Connecticut mengaku menerima manifesto itu lalu melaporkannya ke pihak kepolisian New London, meskipun aparat masih mendalami jedah waktu pelaporan dengan kejadian penembakan. (EER)