Jakarta, AFU.ID — Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran meski sebelumnya telah menyepakati penghentian perang melalui nota kesepahaman (MoU) Islamabad. Serangan itu terjadi ketika rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, masih berlangsung dan memasuki hari kelima, memicu tuduhan dari Teheran bahwa Washington kembali melanggar perjanjian damai yang telah disepakati.
Gelombang serangan menghantam sejumlah wilayah di Iran selatan, termasuk Bandar Abbas, Sirik, dan Pulau Qeshm di kawasan strategis Selat Hormuz. Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah titik, meliputi dermaga komersial, dermaga perikanan, kapal-kapal nelayan sipil, hingga sebuah menara telekomunikasi di Bandar Abbas. Beberapa warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat serpihan ledakan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengakui operasi tersebut dan menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Menurut CENTCOM, lebih dari 80 target dihantam, meliputi sistem pertahanan udara, radar pesisir, jaringan komando dan kendali, lokasi peluncuran rudal anti-kapal, serta lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Washington menyebut operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang jalur pelayaran internasional. Dalam pernyataannya, CENTCOM menilai tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata serta ancaman terhadap kebebasan navigasi global.
Namun, Iran justru menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang lebih dahulu mengingkari kesepakatan damai. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui akun X menyebut Washington telah melakukan sejumlah pelanggaran besar terhadap MoU, mulai dari serangan militer di Iran selatan, ancaman serangan lanjutan, pencabutan izin ekspor minyak Iran, hingga dukungan terhadap agresi Israel. "Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir. Itu tidak membawa ke mana-mana. Kami tidak akan menyerah," tulis Ghalibaf.
Juru bicara Komando Militer Gabungan Iran juga mengecam operasi tersebut sebagai "agresi terang-terangan" dan menegaskan angkatan bersenjata Iran akan memberikan "respons yang menghancurkan". Iran kembali menegaskan tidak akan membiarkan Amerika Serikat ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut hampir seperlima kebutuhan energi dunia.
Serangan tersebut juga memaksa Presiden Iran Masoud Pezeshkian mempercepat kunjungannya ke Irak. Pezeshkian sebelumnya berada di Najaf untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir kepada Ali Khamenei serta dijadwalkan menghadiri arak-arakan jenazah menuju Kota Suci Najaf dan Karbala. Menyusul serangan AS, ia segera kembali ke Teheran dan membatalkan sebagian agenda diplomatiknya dengan pemerintah Irak.
Ketegangan terbaru ini juga Qatar. Pemerintah Qatar memanggil Wakil Duta Besar Iran dan menyerahkan nota protes setelah kapal tanker LNG Al Rekayyat diserang drone. Doha menyalahkan Iran atas serangan terhadap sejumlah kapal tanker, sementara Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan kapal-kapal komersial yang menjadi sasaran telah melanggar jalur pelayaran yang ditetapkan otoritas Iran.
Di saat yang sama, Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi dengan mencabut izin ekspor minyak Iran yang sebelumnya diberikan berdasarkan MoU Islamabad. Departemen Keuangan AS memberikan tenggat hingga 17 Juli bagi Iran untuk menghentikan seluruh transaksi minyak yang masih berjalan, langkah yang oleh Teheran kembali disebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai.
Serangan terbaru ini menjadi operasi militer pertama Amerika Serikat selama rangkaian tujuh hari prosesi pemakaman Ali Khamenei. Eskalasi tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang disepakati kedua negara kini berada di ambang kegagalan, sekaligus meningkatkan risiko pecahnya kembali konflik terbuka di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. (EER)