JAKARTA - AFU.ID, Syekh Ahmad Al Misry, pelaku pencabulan sesama laki-laki, yang semua korbannya adalah santri, saat ini masih buron. Polisi mengungkap, dirinya saat ini berada di Mesir, negara asalnya.
Al Misry melarikan diri setelah dirinya mangkir tiga kali dari panggilan polisi. Perwakilan korban menyebut dirinya saat ini berada di Mesir, dan telah ditahan oleh otoritas setempat.
Polisi memastikan status kewarganegaraan tersangka tidak hanya satu. Informasi ini didapat setelah polisi menghubungi otoritas Mesir.
"Tampaknya begitu ya (punya dua kewarganegaraan)," ucap Ses NCB Interpol Mabes Polri, Brigjen Untung Widyatmoko, mengutip Tirto, Senin (11/5/2026).
Status kewarganegaraan ganda itu disembunyikan oleh pelaku. "Kewarganegaraan beliau harusnya Indonesia, tapi beliau rupanya menyembunyikan kewarganegaraan Mesirnya," tutur Untung.
Saat ini, polisi sedang mengajukan status red notice atas dirinya.
13 Santri Jadi Korban
Jumlah korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Syekh Al Misry bertambah jadi 13 orang. Seluruh korban merupakan anak di bawah umur.
Korbannya berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Tangerang hingga Gorontalo dengan modus iming-iming belajar mengaji dan beasiswa pendidikan ke Mesir.
"Jakarta enggak ada. Tangerang, Bogor, Sukabumi, Purbalingga, Palembang, Jambi, dan Gorontalo [asal korbannya]. [Pelecehan] terjadinya di Jakarta, Masjid MTQ. Lalu ada juga terjadi di Purwokerto, ada terjadi di Purbalingga, ada terjadi di Bogor, terjadi di Sukabumi," ungkap Mahdi.
Mahdi mengaku menerima laporan dari korban yang mulai berani mengungkap pelecehan yang dilakukan pelaku. Meskipun, belum berani melaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian.
"Saya terakhir itu 13 [korban]. Cuma yang kita naikin [menjadi laporan resmi ke kepolisian] memang baru lima," tutur Mahdi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).
Modusnya, korban diajak belajar mengaji oleh tersangka, lalu dibawa ke kamar dan mengalami pelecehan seksual.
Selain pelecehan seksual, Al Misry juga melakukan dugaan tindak pidana lain dengan modus penipuan, yaitu memberikan beasiswa kepada para korban ke Mesir, tetapi faktanya korban disuruh bayar sendiri.
Mulai dari tiket keberangkatan, izin tinggal, hingga biaya hidup, semua ditanggung korban sendiri saat sudah sampai di negara tersebut. Banyak korban yang terlantar dan hidup terkatung-katung selama 1-1,5 tahun di Mesir.
Padahal, di Mesir, Ahmad Al Misry itu dipastikan bukan pemuka agama, melainkan warga biasa. Berbeda dengan penampilan dia di Indonesia, yang dihormati para santri karena dianggap syekh.
"Ketika ada kesempatan, ketika kita mengkultuskan seseorang, ya akhirnya ada pelecehan," ungkap Mahdi. (EER)