JAKARTA, AFU.ID — Ribuan warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, memblokade jalur Pantura di depan Markas Komando Latihan Marinir (Makolatmar), Kamis (23/7/2026). Aksi tersebut adalah bentuk protes dari rentetan insiden peluru nyasar yang berasal dari aktivitas latihan menembak militer. Massa menuntut latihan militer dihentikan sementara sampai ada jaminan keselamatan bagi masyarakat.
Aksi yang berlangsung sejak siang itu menyebabkan arus lalu lintas di jalur Pantura Pasuruan lumpuh. Warga menutup badan jalan dengan sebuah truk yang diparkir melintang sehingga antrean kendaraan mengular. Selama aksi berlangsung, aparat kepolisian berjaga di lokasi untuk mengamankan situasi.
Sekretaris Desa Alastlogo sekaligus koordinator aksi, Sugianto, mengatakan demonstrasi merupakan luapan keresahan warga setelah peluru nyasar kembali menghantam kawasan permukiman. Menurutnya, masyarakat masih dibayangi trauma atas peristiwa serupa yang pernah terjadi di wilayah tersebut pada 2007. "Memang sampai sekarang belum ada korban, tapi warga takut jangan sampai terulang kejadian Alastlogo jilid II yang terjadi pada 2007 silam," kata Sugianto.
Sugianto menyebut aktivitas latihan militer dalam sepekan terakhir membuat warga semakin khawatir karena proyektil beberapa kali menembus atap rumah. Bahkan, kata dia, seorang balita berusia dua tahun nyaris menjadi korban setelah peluru nyasar kembali dilaporkan jatuh di kawasan permukiman pada Kamis pagi. "Keponakan saya sendiri hampir saja kena, masa sampai menunggu ada warga yang meninggal. Kami minta segera dihentikan latihan tempur," ujarnya, dikutip dari Kabarbaik.co.
Gelombang protes itu dipicu rentetan insiden peluru nyasar yang terjadi dalam dua hari terakhir. Pada Rabu, 22 Juli 2026 sedikitnya empat rumah warga di Desa Alastlogo dilaporkan terkena proyektil yang diduga berasal dari aktivitas latihan militer, meski tidak menimbulkan korban jiwa. Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kejadian serupa yang selama ini dikeluhkan warga di sekitar kawasan latihan.
Anggota DPRD Jawa Timur, Multazamudz Dzikri, meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas karena warga telah lama hidup dalam bayang-bayang ancaman peluru nyasar. Ia juga menyoroti belum adanya tindak lanjut atas berbagai rekomendasi penyelesaian persoalan kawasan latihan maupun sengketa lahan yang telah dibahas bersama pemerintah pusat.
Sementara itu, Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpur) 3 Grati menyatakan masih mendalami laporan mengenai peluru nyasar yang beredar di masyarakat. Paur PAM Puslatpur 3 Grati, Lettu Marinir Sutikno, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan penjelasan lebih lanjut karena informasi yang diterima masih diverifikasi. Hingga berita ini ditulis, warga masih bertahan di lokasi aksi sambil menunggu tanggapan resmi dari pihak Marinir terkait tuntutan penghentian latihan tempur dan jaminan keamanan bagi masyarakat. (RAI)