JAKARTA, AFU.ID — Kabar bahwa Bumi akan gelap akibat Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2026 kembali beredar di media sosial. Informasi tersebut tidak sesuai dengan kalender astronomi karena tidak ada gerhana matahari yang terjadi pada tanggal itu. Gerhana Matahari Total terdekat justru berlangsung pada 12 Agustus 2026 dan tidak dapat disaksikan dari Indonesia.
Narasi yang beredar biasanya disertai video langit menjadi gelap pada siang hari dan peringatan mengenai fenomena langka. Kementerian Komunikasi dan Digital pernah membantah klaim serupa yang menyebut Gerhana Matahari Total terjadi pada 2 Agustus 2025. Informasi tersebut diduga terus didaur ulang dengan mengganti tahunnya menjadi 2026, padahal tanggal gerhana yang dimaksud adalah 2 Agustus 2027.
Data NASA menunjukkan Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 akan melintasi wilayah Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Spanyol, dan sebagian wilayah Eropa. Fase total terlama berlangsung sekitar dua menit 18 detik ketika bayangan inti bulan melintasi bagian utara Bumi. Indonesia tidak berada di jalur gerhana total maupun wilayah yang dapat menyaksikan fase sebagian.
Fenomena tersebut juga berlangsung ketika wilayah Indonesia telah memasuki malam pada 13 Agustus 2026. Karena Matahari sudah berada di bawah horizon, masyarakat Indonesia tidak akan melihat perubahan bentuk Matahari maupun langit menjadi gelap akibat gerhana. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi masyarakat menghentikan aktivitas atau mengantisipasi kegelapan pada 2 maupun 12 Agustus.
Tanggal 2 Agustus yang ramai disebut sebenarnya berkaitan dengan Gerhana Matahari Total pada 2027. Jalur totalitasnya akan melintasi sebagian Eropa selatan, Afrika Utara, dan kawasan Timur Tengah sebelum bergerak menuju Samudra Hindia. Fase total terlamanya diperkirakan mencapai sekitar enam menit 23 detik, jauh lebih lama dibandingkan gerhana pada 2026.
Meski termasuk fenomena besar, Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 juga tidak melintasi Indonesia. Masyarakat yang ingin melihat fase total harus berada di jalur bayangan inti bulan yang lebarnya hanya beberapa ratus kilometer. Wilayah di luar jalur itu hanya dapat mengalami gerhana sebagian atau bahkan tidak melihat gerhana sama sekali.
Indonesia baru kembali dilintasi jalur Gerhana Matahari Total pada 20 April 2042. Jalur bayangan total akan bergerak melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan sebelum menuju wilayah lain di Asia. Durasi total terpanjang secara global pada gerhana tersebut diperkirakan sekitar empat menit 51 detik.
Pada 14 Oktober 2042, sebagian wilayah Indonesia juga akan dilintasi gerhana matahari, tetapi jenisnya adalah gerhana cincin, bukan total. Jalurnya melintasi kawasan Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah sekitar Nusa Tenggara dan Maluku. Dalam gerhana cincin, bulan tidak menutup seluruh piringan Matahari sehingga menyisakan lingkaran cahaya menyerupai cincin.
Masyarakat tetap dilarang melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus ketika gerhana benar-benar terjadi. Kacamata hitam, kamera telepon, film negatif, maupun kaca berwarna tidak cukup melindungi mata dari paparan radiasi Matahari. Kacamata gerhana berstandar internasional atau metode proyeksi tidak langsung harus digunakan agar pengamatan tidak merusak penglihatan.
Kabar Bumi gelap pada 2 Agustus 2026 memperlihatkan bagaimana fenomena astronomi mudah dipelintir untuk mengejar perhatian di media sosial. Tanggal, lokasi, serta jenis gerhana dapat diperiksa melalui data lembaga astronomi sebelum informasi dibagikan kembali. Faktanya, Indonesia tidak akan mengalami gerhana Matahari pada 2 Agustus 2026 dan masih harus menunggu hingga 2042 untuk kembali berada di jalur totalitas. (RHU)