JAKARTA, AFU.ID — Harga minyak mentah Indonesia mengamai penurunan seiring dengan meredanya eskalasi ketegangan geopolitik global. Tren itu secara otomatis ikut memperbaiki rantai pasok energi di seluruh penjuru dunia.
Melansir website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI), Minggu (7/6/2026), harga komoditas menyusut. Otoritas menetapkan angka Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD106,56 per barel.
Nilai ICP turun USD10,75 dari pencapaian bulan April 2026, yaitu sebesar USD117,31 per barel. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman mengonfirmasi pelonggaran pasar internasional.
“Perkembangan positif ini secara umum dipengaruhi oleh perbaikan pasokan global seiring meredanya konflik geopolitik global,” ungkapnya.
Dengan begitu, kekhawatiran pasar terhadap potensi kemacetan distribusi minyak mentah kini mulai berkurang. Adapun International Energy Agency (IEA) memproyeksikan penurunan permintaan harian dunia pascapandemi.
Lembaga tersebut memperkirakan konsumsi menyusut 420 ribu barel, menjadi 104 juta barel per hari. Melansir data IEA, penurunan impor komoditas secara signifikan juga menimpa kawasan Asia.
Negara besar seperti Tiongkok mengalami kemerosotan aktivitas pengolahan minyak mentah sebesar 5,8%. Langkah itu menyentuh level terendah, yaitu 13,35 juta barel harian selama 44 bulan terakhir.
“Melalui pemantauan yang berkelanjutan dan langkah antisipatif yang diperlukan, pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional dan memastikan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat,” tutur Laode Sulaeman.
Sementara itu, harga minyak jenis Dated Brent ikut melemah sebesar USD12,99 per barel. Penurunan tajam tersebut menyentuh angka USD107,55 dari harga sebelumnya USD120,55 per barel.
Sebaliknya, bursa minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) justru naik tipis USD0,45 per barel. Lonjakan kecil itu pun mengubah posisi harga komoditas menjadi USD98,51 dari sebelumnya USD98,06 per barel. (ADR)