AFU.id

Optimalisasi Aset Daerah Jakarta Ciptakan Kawasan Produktif Berbasis TOD

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Optimalisasi aset daerah di DKI Jakarta bertujuan untuk menciptakan kawasan produktif yang terintegrasi dengan transportasi publik melalui konsep Transit Oriented Development (TOD). Wakil Gubernur Rano Karno menekankan pentingnya kolaborasi antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan sektor perbankan dalam mempercepat pemanfaatan aset, seperti proyek Pulomas Tower, yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan menciptakan nilai tambah bagi kota.

Optimalisasi Aset Daerah Jakarta Ciptakan Kawasan Produktif Berbasis TOD
Wagub DKI Jakarta, Rano Karno. (Foto: Pemprov DKI Jakarta)

Aset Daerah Jakarta Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi

Lebih lanjut, Rano Karno mengharapkan kawasan Pulomas Tower berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi yang memperkuat kawasan berbasis TOD. Aset daerah Jakarta juga mengarah sebagai pengungkit investasi melalui kolaborasi pemerintah, BUMD, dan sektor perbankan. Ia memandang, pendekatan itu dapat mempercepat pembangunan proyek strategis dengan pembiayaan yang lebih berkelanjutan.

Wagub Rano lantas menekankan pentingnya memperluas skema kolaborasi pembiayaan agar pembangunan Jakarta tak hanya bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ia juga meminta seluruh proses pembangunan berjalan dengan tata kelola yang profesional, transparan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. “Saya mengapresiasi PT Pulo Mas Jaya, PT Bank Mega Syariah, dan seluruh pihak yang telah mewujudkan kerja sama ini. Semoga proses pembangunan berjalan lancar dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi Jakarta,” tuturnya.

Optimalisasi aset daerah Jakarta melalui proyek berbasis TOD menunjukkan perubahan pendekatan pembangunan perkotaan yang lebih berorientasi pada produktivitas aset. Jika pengelolaannya konsisten, kolaborasi lintas sektor itu berpotensi memperkuat daya saing ibu kota. Bahkan, dapat menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru tanpa meningkatkan tekanan terhadap ketahanan fiskal daerah. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi