JAKARTA, AFU.ID – Bentrokan antarkelompok warga di Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, menewaskan seorang pria berinisial K (23). Polisi menetapkan tujuh orang sebagai tersangka setelah mengusut rangkaian perusakan gerobak pedagang hingga pengeroyokan pada Minggu (26/7/2026). Penyelidikan sementara menunjukkan bentrokan bermula dari teguran warga kepada sekelompok pengendara motor berknalpot bising.
Teguran tersebut berujung perselisihan, perusakan, dan aksi kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Aparat gabungan masih berjaga di sekitar lokasi untuk mencegah konflik susulan. Bentrokan juga membuat dua sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh. Berikut lima fakta terbaru bentrokan di Menteng:
1. Tujuh Orang Jadi Tersangka dalam Dua Perkara
Polda Metro Jaya menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Penanganan dibagi menjadi perkara perusakan gerobak pedagang nasi uduk dan pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Empat tersangka perusakan berinisial GNA, AJL, FAM, dan ELL. Tiga tersangka lainnya, yakni SK, AS, dan OR, diproses dalam perkara pengeroyokan terhadap K.
Ketiga tersangka pengeroyokan diketahui tinggal di kawasan Matraman Dalam, Pegangsaan, Menteng. Polisi masih mendalami peran setiap orang dalam rangkaian bentrokan tersebut. Penanganan perkara dilakukan bersama oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat. Penyidik mencocokkan keterangan saksi dengan barang bukti yang ditemukan di lokasi.
2. Bentrokan Dipicu Teguran Knalpot Bising
Peristiwa bermula ketika warga menegur sekelompok pengendara motor dari luar kawasan Matraman Dalam. Suara knalpot kendaraan kelompok tersebut dinilai mengganggu ketenangan warga. “Kejadian ini berawal dari suara kebisingan knalpot sehingga mengganggu warga lainnya dan diteriaki. Yang bersangkutan tidak terima,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto di lokasi kejadian, Senin (27/7/2026).
Kelompok pengendara itu sempat meninggalkan lokasi. Namun, mereka kemudian kembali bersama sejumlah orang untuk mencari warga yang sebelumnya memberikan teguran. Orang yang dicari sudah tidak berada di tempat. Kelompok tersebut kemudian melampiaskan kemarahannya dengan merusak gerobak milik pedagang nasi uduk.
Perusakan itu memicu reaksi warga sekitar. Bentrokan kemudian pecah dan berujung pada pengeroyokan terhadap K hingga korban meninggal dunia. Polisi memisahkan perkara perusakan dan pengeroyokan karena pelaku serta tindakan yang dilakukan berbeda. Meski demikian, keduanya merupakan bagian dari rangkaian bentrokan yang sama.
3. Gerobak Nasi Uduk Akan Diganti
Pemerintah Kecamatan Menteng akan mengganti gerobak nasi uduk yang dirusak. Gerobak tersebut belum dapat digunakan kembali karena telah diamankan polisi sebagai barang bukti. Camat Menteng Nurhelmi Savitri menargetkan gerobak baru diberikan paling lambat Selasa. Penggantian dilakukan agar pemiliknya dapat segera kembali mencari nafkah.
“Insya Allah akan segera kami ganti gerobaknya karena gerobak tersebut dirusak dan ditarik oleh polisi untuk barang bukti,” kata Nurhelmi. Pemerintah kecamatan juga akan mengumpulkan pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta Karang Taruna. Pertemuan tersebut ditujukan untuk meredam ketegangan dan mencegah aksi balasan. Komunikasi dengan warga dari kelompok yang terlibat juga akan dilakukan agar persoalan diserahkan kepada proses hukum.
4. Dua Sekolah Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh
RA Karisma dan MI Karisma menerapkan pembelajaran jarak jauh pada Senin. Kedua sekolah berada di kompleks Masjid Jami’ Matraman yang menjadi salah satu titik bentrokan. Kebijakan belajar dari rumah diambil untuk menjaga keamanan murid sekaligus memberikan rasa tenang kepada orangtua. Sekolah tidak diliburkan dan kegiatan belajar tetap berlangsung secara daring.
“Iya, sementara belajarnya PJJ dari rumah,” ujar Nurhelmi. Penerapan pembelajaran jarak jauh akan dievaluasi sesuai perkembangan keamanan. Kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dilakukan setelah situasi dinyatakan aman.
5. Sebanyak 200 Personel Masih Berjaga
Sekitar 200 personel gabungan masih disiagakan di Jalan Tambak hingga Jalan Matraman Raya. Pasukan berasal dari TNI, Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, dan Polsek Menteng. Pengamanan diperketat setelah muncul ancaman serangan balasan dari rekan korban. Polisi belum berencana menarik personel karena potensi bentrokan susulan masih diantisipasi.
“Untuk jumlah pengamanan di obyek sekitar Menteng, sesuai keterangan semalam sekitar 200 personel gabungan dari TNI, personel Polda Metro, Polres Jakpus, dan Polsek Menteng,” kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Erlyn Sumantri. Kendaraan taktis, bus, dan truk kepolisian ditempatkan di sekitar lokasi.
Personel Brimob juga berjaga di sejumlah titik yang dianggap rawan. Polisi mengimbau warga tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi dan menyerahkan penanganan perkara kepada penyidik. (FAD)