JAKARTA AFU.ID — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dikabarkan akan memasukkan Israel ke dalam daftar hitam pelaku kekerasan seksual di wilayah konflik. Langkah itu disebut berkaitan dengan meningkatnya laporan dugaan pelanggaran terhadap warga Palestina dalam tahanan Israel
Dalam laporan tersebut disebutkan sejumlah lembaga Israel, termasuk Dinas Penjara Israel, kini berada dalam kerangka pengawasan PBB dan berpotensi masuk ke daftar serupa pada masa mendatang. Sorotan internasional menguat setelah muncul banyak kesaksian mengenai dugaan penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina.
Organisasi hak asasi manusia serta sejumlah media internasional selama beberapa bulan terakhir telah mendokumentasikan ratusan kesaksian dari Jalur Gaza, Tepi Barat, hingga penjara-penjara Israel. Kesaksian itu memuat dugaan pelecehan seksual, penyiksaan, hingga perlakuan tidak manusiawi selama proses penangkapan dan interogasi.
Sebelumnya, The New York Times menerbitkan laporan opini yang ditulis jurnalis perang senior, Nicholas Kristof, mengenai maraknya dugaan pemerkosaan terhadap warga Palestina dalam tahanan Israel. Dilansir dari Republika, laporan itu menyoroti pola kekerasan yang disebut terus berulang dalam konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Laporan serupa sebelumnya dipublikasikan Middle East Eye melalui dokumen berjudul “Sexual Violence and Forcible Transfer in the West Bank: How the Exploitation of Gender Dynamics Drives Displacement”. Dokumen tersebut diterbitkan West Bank Protection Consortium dan mencatat sedikitnya 16 kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan tentara dan pemukim Israel.
Kristof menilai dehumanisasi terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun menjadi salah satu faktor yang membuat kekerasan semacam itu dapat terus terjadi. Ia juga menilai jumlah kasus sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar dibanding yang terungkap ke publik.
Menurutnya, banyak korban enggan berbicara secara terbuka karena tekanan sosial dan stigma di lingkungan masyarakat yang konservatif. Sebagian besar korban yang diwawancarainya bahkan meminta identitas mereka dirahasiakan demi alasan keamanan dan privasi.
Meski demikian, Kristof menyebut pola kesaksian yang muncul menunjukkan adanya persoalan sistematis. Ia turut mengutip laporan berbagai organisasi nonpemerintah seperti Euro-Med Monitor, Save the Children, Committee to Protect Journalists, dan B’Tselem yang mendokumentasikan dugaan kekerasan seksual oleh aparat Israel. (ANT/RAI)