JAKARTA, AFU.ID — Ketua Parlemen sekaligus pemimpin delegasi perundingan Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan Amerika Serikat agar memenuhi komitmen dalam kesepakatan damai di tengah kembali memanasnya konflik di Selat Hormuz. “Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah mengatakan kepada Anda: tepati janji atau bayar harganya. Kenyataan sudah di depan mata,” tulis Ghalibaf melalui platform X, Minggu (12/07/26).
Ghalibaf menyertakan potongan Pasal 5 Memorandum Saling Pengertian Islamabad antara Iran dan AS. Pasal tersebut mengatur Iran membuat pengaturan bagi pelayaran kapal niaga secara aman dan bebas biaya selama 60 hari dari Teluk Persia menuju Laut Oman maupun sebaliknya. Ketentuan itu juga menyebut Iran akan berkonsultasi dengan Oman mengenai pengelolaan dan layanan pelayaran di Selat Hormuz sesuai hukum internasional serta hak negara-negara pantai.
Pernyataan Ghalibaf mempertegas posisi Teheran bahwa pelaksanaan kesepakatan harus bersifat timbal balik. Iran menuding AS melanggar kerangka perjanjian melalui serangan militer, tekanan terhadap pelayaran, dan kebijakan sepihak di kawasan. Peringatan tersebut disampaikan setelah Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sejumlah instalasi militer AS di kawasan Teluk. Serangan itu disebut Teheran sebagai balasan atas operasi udara terbaru Washington di wilayah selatan Iran.
CENTCOM sebelumnya menyatakan serangan terhadap Iran dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz. Militer AS mengeklaim operasi tersebut menargetkan sistem pertahanan udara, jaringan komando, radar pantai, rudal antikapal, serta kapal-kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran. Iran kemudian menutup Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan dan menyatakan jalur strategis itu baru akan dibuka setelah campur tangan militer AS di kawasan berakhir.
Washington menuding Iran melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal dagang. Sebaliknya, Teheran menilai serangan AS dan pembatasan terhadap Iran menjadi pelanggaran awal yang membebaskan Iran mengambil tindakan balasan. Ketegangan terbaru membuat masa depan MOU Islamabad semakin tidak pasti. Kesepakatan tersebut sebelumnya dirancang untuk menghentikan pertempuran, mencabut blokade laut AS, membuka kembali Selat Hormuz, dan menyediakan waktu 60 hari bagi kedua negara untuk merundingkan perjanjian akhir. (RHU)